Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Young and Beautiful (4 - Tamat)

    Cerpen: Young and Beautiful (4 - Tamat) ditulis oleh: Meylani.Aryanti. Estimasi waktu baca artikel ini adalah: . Selamat Membaca..

    Aku menemukan Loren sudah duduk di salah satu sudut perpustakaan. Dia nggak lagi memegang buku tentang arsitektur seperti ketika dulu aku menemuinya untuk mengembalikan buku catatan itu.

    Saat melihatku datang, dengan ramah Loren melambaikan tangannya dan menunjuk kursi kosong dihadapannya.

    Jujur ya, setelah menerima pesan dari cowok ini tadi dan setelah Niki menggodaku dengan rencana kencan di perpustakaan, dadaku sempat berdebar kencang sekali. Aku gugup saat langkah kakiku semakin dekat dengan gedung perpustakaan.

    source: pinterest

    Hanya saja begitu melihat Loren duduk dengan handphone ditangannya, semua rasa itu hilang dan berganti dengan perasaan bersemangat. Perasaan yang mirip dengan ketika aku masih di TK dulu dimana aku dan teman-teman diajak pergi ke kebun binatang. Perasaan riang semacam itulah. Aku senang dekat dengan Loren karena dia membuatku riang gembira.

    Ya ampun! Kata-kataku seperti anak TK saja!

    "Ada apa?" tanyaku pada Loren saat sudah duduk dihadapannya.

    Loren melirik ke arah kedatanganku. "Kamu nggak diikuti pas kesini kan?" tanyanya berbisik.

    "Nggak dong. Aku belum ketemu Mikhaela sejak pagi. Kayaknya dia nggak sekolah!"

    "Baguslah. Jadi aku aman. Oh ya, kamu udah sarapan kan?"

    Aku mengangguk. Sehari pun sejak mulai masuk sekolah, aku nggak pernah melewatkan sarapan.

    "Bagus," kata Loren.

    Lalu hening. Loren nggak mengatakan apa-apa padahal sejak tadi aku sudah menantikan apapun yang ingin disampaikannya padaku. Dia malah sibuk dengan telpon genggamnya.

    "Ada apa?" tanyaku akhirnya.

    Loren menengadah. "Sorry Laura, ada pesan dari teman di Jakarta yang harus aku jawab."

    "Oke, lanjut aja dulu."

    Loren kembali mengetikkan sesuatu di layar handphone-nya. Dia tersenyum sedikit dan akhirnya mengalihkan perhatiannya padaku.

    "Jadi," ujar Loren memulai perkataannya. "Mikhaela naksir aku."

    Bukan kejutan lagi. Secara nggak langsung, Mikha sudah mengakui itu ketika melabrakku tempo hari di depan Mading sekolah.

    "Dan aku nggak bisa ngebalas perasaannya," lanjut Loren. "Dia bukan tipe aku. Aku nggak suka cewek yang banyak gaya gitu. Kamu sendiri juga tahu kan, aku bahkan nggak punya akun Instagram."

    Aku tahu itu.

    "Malam itu, Mikha datang ke rumahku untuk memintaku lagi jadi pacarnya. Sebelumnya dia udah pernah nembak aku. Tapi aku bilang aku nggak mau pacaran dulu. Tapi kayaknya dia nggak percaya."

    "Dan Mikha mengira kita pacaran," kataku yang membuat mata Loren membulat. "Dia ngelabrak aku kemarin."

    "Oh ya?" Loren masih terkejut. "Dia sampai berbuat kayak gitu?"

    Aku mengangguk. Lagi.

    "Tapi Shandy nggak melakukan apa-apa ke kamu kan, Laura?"

    Shandy??? Kenapa subjek dalam topik pembahasan kami sekarang ini cepat sekali beralih?

    "Memangnya Shandy kenapa?" tanyaku.

    "Shandy juga nembak aku."

    Aku memelotot. Tanpa aku duga, aku mendapatkan jawaban atas absennya kebersamaan Mikha dan Shandy belakangan ini. Jadi benar dugaan Niki mereka berdua sudah pecah kongsi. Dan itu karena memperebutkan Loren.

    Aku sudah nggak sabar ingin kembali ke kelas dan menyampaikan berita ini untuk Niki. Dia pasti senang luar biasa.

    "Aku heran dengan keberanian kaumku buat nembak cowok," ucapku sambil menggaruk kepalaku yang nggak gatal sama sekali.

    "Itulah yang namanya jatuh cinta," ujar Loren. "Memangnya kamu belum pernah jatuh cinta?"

    Aku berpikir sejenak. "Aku rasa belum. Tapi kalo kagum udah. Malah terlampau sering mengagumi cowok."

    Loren tertawa. "Termasuk Leon?"

    Senyum langsung mengembang di bibirku. Tidak hanya Leon, bahkan aku sempat terkagum-kagum dengan Loren ketika pertama kali bertemu dengannya.

    "Jadi," kataku kemudian. "Apa yang bakal kamu lakukan?"

    "Nggak ada."

    "Tapi setidaknya kamu harus meyakinkan Mikha kalo kita nggak pacaran."

    "Bukan kewajiban aku... Biar saja dia menebak-nebak sendiri," pungkas cowok itu. "Tapi yang ini kewajiban aku."

    Awalnya aku nggak begitu mengerti apa maksud Loren sebenarnya. Tatapan matanya yang sepertinya tertuju padaku membuatku merasakan ketidaknyamanan. Setelah beberapa saat, barulah aku sadar dia tidak sedang memandangiku melainkan sebuah titik di belakangku.

    Aku menoleh dan mendapati Leon sudah berdiri disana. Wajahnya kaku dan sepertinya dia terlihat sangat nggak senang.

    "Aku mau ke kantin dulu ya," kata Loren lalu berdiri. "Kamu tetap diam disini ya, Laura. Seenggaknya kamu harus mengkonfirmasi sesuatu ke seseorang."

    Loren menepuk pundakku. Sebelum keluar dari perpustakaan, aku melihatnya mengatakan sesuatu kepada Leon.

    Dalam sekejap saja Leon sudah duduk di kursi yang tadinya diduduki oleh Loren.

    "Bukan kamu ya, yang meliput pertandingan itu nanti?" tanya Leon.

    Dengan cowok ini ada rasa nggak nyaman yang menyeruak. Aku merasa tidak bebas. Seperti ada kekuatan besar yang mengikatku dengan begitu kuat. Dan terus terang saja, aku nggak suka.

    "Aku masih baru di tim jurnalistik, Kak," jawabku. "Rasanya lebih baik anggota senior saja yang melakukan peliputan. Berita itu pastinya akan naik jadi berita utama."

    Leon mengangguk. "Tapi apa kamu nggak akan datang?"

    Aku nggak tahu aku akan datang ke pertandingan itu atau tidak. Tapi kalau ternyata Lusi berubah pikiran dan memintaku yang meliput acara itu, aku sudah pasti akan datang. Aku bukan penggemar basket dan juga bukan penggemar keramaian. Niki mungkin akan datang tapi aku nggak mau mengajaknya kesana sebab aku nggak mau memberikannya kesempatan untuk menggodaku.

    Yang pasti akan dia lakukan bila aku mengajaknya ke pertandingan itu.

    "Aku sih nggak tahu, Kak," jawabku jujur. "Aku belum bisa memastikan apakah saat itu aku akan disuruh bantu ibu jualan atau nggak."

    Aku tersenyum. Dan jawabanku itu bukanlah kebohongan. Aku memang biasa membantu ibuku berjualan. Sekedar untuk mengantarkan pesanan buah ke pelanggan setianya yang memesan lewat telpon.

    "Kamu rupanya juga berbakti banget ke orang tua, ya," ucap Leon dengan senyuman termanisnya. "Selain karikatur kamu yang selalu bagus, aku nggak nyangka kalo kamu nggak malu bantu orang tua. Aku semakin kagum sama kamu!"

    Tunggu. Apa??? Leon baru saja bilang kalau dia semakin kagum padaku??? Bukankah seharusnya aku yang mengucapkan kalimat itu? Ada apa lagi ini?

    "Aku suka sama kamu, Laura."

    Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, berusaha memastikan bahwa aku sedang nggak bermimpi dan bahwa aku nggak salah dengar.

    "Maksud Kakak apa?" tanyaku akhirnya dengan suara mencicit. Aku berubah jadi tikus.

    "Aku kagum sama kamu dan aku suka sama kamu."

    Jadi ini adalah pernyataan cinta? Aku selalu mengira pernyataan cinta adalah sebuah adegan yang sangat spesial dalam kehidupan seseorang. Kamu diajak pergi ke pantai yang pasirnya putih dan di tempat itu sudah menunggu sebuah meja dengan lilin kecil serta bunga mawar yang bertebaran dimana-mana.

    Aku nggak mengira akan seperti ini.

    "Terima kasih, Kak," ucapku.

    Loren pasti akan tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku itu. Dia akan membuatku cemberut tapi kemudian bisa menerima kebodohanku.

    "Aku serius, Laura," lanjut Leon lagi. "Awalnya aku memang nggak menyadari keberadaan kamu..."

    Sudah aku duga. Aku adalah manusia bening yang bahkan nggak akan bisa dilihat dengan alat canggih milik profesor di film-film Marvel. Tapi ada nggak sih profesor semacam itu?

    "Sampai aku melihat karikatur kamu. Aku suka karikatur-karikatur itu. Cerdas. Brilian. Dan aku pun mulai mencari siapa yang membuatnya. Lalu aku pun ngikutin kamu kemana-mana..."

    Tapi kenapa aku nggak sadar ada cowok keren yang membuntutiku kemana-mana? Aku pasti bodoh luar biasa.

    "Aku berusaha mencari celah biar bisa ngobrol sama kamu. Cuma kamu sangat sulit buat didekati. Tapi kemudian aku ngeliat kamu jalan bareng Loren. Waktu itu aku merasa aku harus melakukan sesuatu..."

    Dan dia pun menyapaku saat berjalan menuju areal parkir waktu itu.

    Aku tersenyum. "Aku dan Loren hanya berteman. Orang tua kami berteman jadi kami juga berteman."

    "Aku tahu." Leon sepertinya akan menguasai percakapan lagi. Tapi aku harus keluar dari tempat ini. Segera.

    "Terima kasih sudah menyukai karikatur aku, Kak," ujarku. "Itu tambahan semangat buat aku buat berkarya lebih baik lagi."

    "Dan kamu juga bisa ngasih aku semangat dengan cara datang ke pertandingan itu."

    "Aku belum bisa memastikan. Tapi nanti aku kabari lewat telpon."

    Leon mengangguk. Dan aku pun segera berpamitan untuk kembali ke kelasku.

    *****

    Setelah selesai mengantarkan pesanan buah ke rumah Ibu Julia, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di Taman Kota Denpasar. Aku selalu suka melihat air mancur dengan patung pasukan yang siap bertempur itu. Aku suka memain-mainkan air kolamnya yang akan membuat ikan-ikan kecil di dalamnya berpencar ke segala arah.

    Hari ini pertandingan basket itu berlangsung. Dan aku memutuskan untuk nggak datang kesana. Niki datang, tentu saja, bersama Lusi.

    Aku sudah menelepon Leon dan mengatakan alasanku. Sekali lagi aku memang tidak berbohong. Aku memang membantu ibuku berjualan.

    Hanya saja setelah pernyataan Leon di perpustakaan hari itu, aku jadi banyak berpikir. Berpikir tentang ketertarikan antara cowok dan cewek serta rasa rendah diriku.

    Selama ini aku meyakini bahwa cowok hanya tertarik pada cewek yang memiliki kelebihan fisik tertentu. Karena aku nggak memiliki apapun yang lebih dalam diriku, aku yakin sekali nggak akan ada satu cowok pun yang mendekatiku. Kalau pun ada, aku rasa cowok itu pasti punya kelainan mental atau sedang taruhan.

    Tapi aku salah besar. Ternyata bakat juga bisa membuat cowok tertarik. Aku hanya membuat karikatur, menggambar apapun itu yang ada di benakku. Dan ternyata Leon sampai-sampai merasa perlu untuk membuntutiku kemana-mana.

    Aku mengatakan semua yang terjadi di perpustakaan pada Loren dan benar saja, dia tertawa hingga perutnya kesakitan. Tapi aku senang melihatnya begitu. Aku senang melihat sahabatku tertawa atas sesuatu yang aku ucapkan. Aku merasa lebih bisa menghargai diriku karena itu.

    Dan untuk Leon, aku tahu dia kecewa. Tidak datangnya aku ke pertandingan itu adalah sinyalku bahwa aku nggak ingin punya hubungan apapun dengannya. Karena memang aku nggak ingin. Dan aku ingin menghormati pilihanku itu.

    Aku kembali memasukkan tanganku ke dalam kolam. Semua ikan kecil-kecil yang beraneka warna itu berhamburan. Mereka berenang dengan percaya diri hingga menemukan tempat yang nyaman untuk bersembunyi.

    TAMAT

    Terimakasih telah membaca Cerpen: Young and Beautiful (4 - Tamat), jangan lupa tinggalkan reaksi & komentar kalian di bawah ini. Jika kalian suka dengan artikel ini, support penulis dengan cara share artikel ini ke sosmed kalian 😊
    Meylani.Aryanti

    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.