Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Jalan Setapak

    Cerpen: Jalan Setapak ditulis oleh: Meylani.Aryanti. Estimasi waktu baca artikel ini adalah: Berdasarkan kecepatan baca rata-rata 265 kata/menit. Selamat Membaca..

    Aku memperhatikan Mama yang sedang menurunkan sesuatu dari atas lemari pakaian. Setelah benda besar itu ada dihadapanku, barulah aku tersadar bahwa itu adalah tas yang sangat besar. Aku rasa aku bisa bersembunyi di dalamnya dan Edo, teman sekelasku, nggak akan bisa menemukanku.

    "Mama mau apakan tas itu?" tanyaku.

    Mama tersenyum. " Ini namanya koper. Mama mau memasukkan pakaian Mama sama pakaian Fani ke dalamnya."

    source: pinterest

    Aku menautkan kedua alisku. Mama mau memasukkan pakaian ke dalam benda bernama koper itu?

    "Memangnya pakaian Mama dan pakaian Fani mau dibawa kemana?" tanyaku lagi.

    Setahun yang lalu aku pernah mendengar Paman Yudi mengatakan akan membereskan pakaiannya ke dalam koper dan setelah itu aku nggak pernah bertemu dengannya lagi.

    "Nggak akan dibawa kemana-mana. Cuma Mama masukkan saja ke dalamnya."

    Mama sangat cepat melakukan kegiatan memindahkan baju-bajuku dan bajunya juga ke dalam koper. Ah ya, bisa jadi Mama mau membeli lemari pakaian yang baru. Soalnya yang aku tahu lemari pakaian yang ada sudah berlubang di bagian belakangnya. Minggu lalu saja, aku menjerit ketakutan setelah melihat makhluk yang mirip tikus di dalamnya.

    Atau itu memang tikus.

    Nggak sampai sejam, Mama sudah menyelesaikan aktivitasnya itu.

    "Ayo, Fani, sekarang waktunya tidur. Ini sudah larut sekali. Besok pagi-pagi sekali Mama mau mengajak Fani ke suatu tempat," ucap Mama seperti berbisik.

    Aku nggak tahu kenapa Mama harus mengecilkan volume suaranya sampai serendah itu.

    *****

    Aku belum pernah bangun tidur sepagi ini. Saat keluar dari kamar menuju halaman rumah, langit masih terlihat sangat gelap. Apa ini sudah pagi?

    "Ini sudah jam setengah enam pagi, sayang," kata Mama seperti bisa membaca pikiranku. "Sebentar lagi matahari pasti muncul."

    "Kita mau kemana sekarang, Ma?" tanyaku.

    Mama cukup lama nggak memberikan jawaban. Tangannya sibuk mengancingkan jaketku yang berwarna pink. Ini jaket favoritku. Om Adi yang membelikannya saat kami jalan-jalan ke pasar malam.

    Sebetulnya aku selalu memanggil Om Adi dengan sebutan Papa. Soalnya, kata Nenek memang dialah Papa-ku. Akan tetapi, suatu hari sebelum aku masuk sekolah Mama mengatakan bahwa Om Adi bukan Papa-ku.

    Saat aku bertanya kenapa, Mama mengatakan agar aku menurut saja dan suatu hari nanti aku akan bertemu dengan Papa-ku.

    "Kita akan berpetualang ke jembatan misterius," jawab Mama setelah selesai dengan jaketku.

    Aku penasaran dengan jawaban Mama. "Dimana itu jembatan misterius?" tanyaku.

    "Nanti Fani juga tahu. Pokoknya Fani ikut saja sama Mama. Tempat itu sangat indah dan siapa tahu kita bisa ketemu Papa disana."

    Aku hampir menjawab bahwa Papa sekarang sedang pergi ke Jakarta jadi rasanya nggak mungkin ada Papa disana ketika mendadak aku teringat bahwa Mama nggak pernah menganggap Om Adi sebagai Papa-ku. Dihadapan Mama Om Adi adalah Om Adi. Bukan Papa.

    Aku menggenggam tangan Mama yang sangat dingin. Udara pagi ini memang sangat dingin. Ketika sudah melewati gerbang rumah kami, aku tiba-tiba teringat pada Nenek.

    "Apa kita nggak mengajak Nenek?" tanyaku. "Kita masih bisa pulang dan membangunkan Nenek."

    Mama memandangiku. "Nenek pasti masih kelelahan. Tadi Mama sudah sempat mengetuk pintu kamarnya tapi nggak ada jawaban."

    Aku mengangguk dan melanjutkan langkah bersama Mama. Setiap sudut jalan yang dilewati Mama memang bukan tempat yang asing buatku. Selama tinggal di lingkungan ini, aku sudah sering melewati jalan ini. Saat pergi ke sekolah, saat bermain ke rumah Nita, atau saat menemani Mama ke pasar, aku selalu melewati jalan ini.

    Namun saat Mama berbelok ke jalan setapak di sebelah rumah Pak Rudi, aku menghentikan langkahku.

    "Kita mau kemana, Ma?" tanyaku untuk kesekian kalinya. Aku rasa hari ini adalah hari dimana aku paling banyak bertanya.

    "Kita akan melihat jembatan misterius itu," ujar Mama mengulurkan tangannya yang tadi sempat aku lepaskan.

    "Bukannya Mama bilang aku nggak boleh pergi ke jalan ini?"

    "Itu kalau sendirian. Sekarang kan Fani bersama Mama."

    Mama menyalakan senter yang dibawanya. Aku nggak ingat Mama membawa benda itu.

    "Hati-hati ya, awas terpeleset," ucap Mama.

    Jalan setapak ini cukup besar bagi kami untuk berjalan bersisian. Di sebelah kiri dan kananku berjejer deretan pepohonan yang sangat rapat. Sejak aku diperbolehkan bermain ke luar rumah, Mama selalu mengatakan larangannya agar aku nggak pergi ke tempat ini. Dan sekarang rasa penasaranku sudah terjawab.

    Sebelumnya, aku selalu membayangkan tempat ini penuh dengan jebakan seperti yang dikatakan Nita, teman sekelasku. Dia bilang jalan ini merupakan jalan menuju rumah raksasa jahat dan di sepanjang jalan ini sudah disiapkan banyak sekali panah beracun.

    Aku dan Mama berjalan cukup lama sampai sayup-sayup terdengar suara air yang mengalir deras. Matahari yang sinarnya sudah mulai mengintip membuatku dapat melihat aliran air yang mengalir cepat dihadapanku.

    "Aku nggak pernah tahu di dekat rumah kita ada sungai, Ma?" tanyaku begitu aku dan Mama sampai di pinggir sungai itu.

    "Iya, memang ada. Hanya Mama nggak mau Fani main sendirian kesini makanya Mama nggak pernah bilang apapun."

    Aku mengangguk.

    "Nah, itu dia jembatan misteriusnya," ucap Mama dengan tangan menunjuk ke satu arah di sebelah kanannya.

    Mataku secara otomatis melihat ke arah yang ditunjuk oleh Mama dan benar saja, sebuah jembatan yang terbuat dari bambu terbentang disana.

    Hanya saja aku tiba-tiba merasa ketakutan. Apa kami akan berjalan di atasnya?

    "Bagaimana kalo kita jatuh, Ma?" Aku merapatkan tubuhku ke Mama.

    "Nggak apa-apa, Fani. Nanti Mama gendong ya. Jangan takut. Ada Mama disini."

    Aku kembali mengangguk. Dengan cekatan Mama menaikkanku ke punggungnya. Aku sempat menjerit saat Mama mulai berjalan di atas bambu itu. Air yang mengalir di bawahku sangat deras. Jika Mama terpeleset, aku akan terjatuh dengan keras ke dalamnya.

    Tapi Mama memang hebat. Aku sampai di seberang sungai dengan selamat. Kami kemudian melanjutkan perjalanan dengan melewati jalan setapak berikutnya. Kali ini, jalan yang kami lewati sudah di semen dan nggak di kelilingi oleh pohon-pohon besar.

    Semakin mendekati tempat tujuan, aku mendengar suara kendaraan yang lalu lalang. Mataku membuktikannya bahwa di depan kami adalah sebuah jalan raya ketika sampai di ujung jalan setapak tersebut.

    "Setelah ini kita akan kemana, Ma?" tanyaku.

    "Kita akan menunggu disini. Nanti akan ada yang datang menjemput kesini."

    Mama menyuruhku duduk di sebuah batu besar.

    "Mama nggak ikut duduk?"

    Mama tersenyum kemudian menggeleng. Hal berikutnya yang aku lihat adalah Mama yang menghampiri seseorang di atas sepeda motornya. Orang itu berhenti di ujung jalan setapak. Karena helm yang dikenakannya masih terpasang, aku nggak dapat mengenali orang itu.

    Dan ketika orang itu membuka helmnya, aku sangat kaget mendapati Paman Yudi adalah orang asing itu. Setahuku pamanku itu sudah lama sekali pergi. Aku dulu sangat menyukainya. Dia sering membelikanku berbagai mainan lucu. Tapi apa yang sekarang Paman Yudi lakukan disini?

    "Fani, kita pergi sekarang!" kata Mama dengan tegas.

    Nada suara Mama membuatku nggak mengajukan pertanyaan apapun lagi. Aku naik ke atas motor dan mengenakan helm yang diserahkan Paman Yudi padaku.

    *****

    Malam itu setelah menikmati sepiring nasi dengan ayam goreng yang sangat lezat, Mama dan Paman Yudi mengajakku duduk di teras rumah. Pagi tadi ketika meninggalkan jalan setapak itu, kami bertiga berkendara cukup jauh hingga sampai di sebuah rumah yang berhadapan dengan danau yang sangat indah. Aku nggak sabar untuk berenang disana esok hari.

    "Kita akan tinggal disini mulai sekarang," ujar Mama membuka percakapan.

    "Gimana dengan Papa - maksud aku Om Adi? Nenek juga gimana?"

    "Fani, mulai sekarang kamu panggil Paman Yudi sebagai Papa," kata Mama. Aku menjadi semakin bingung dengan perubahan yang mendadak ini. "Sebenarnya, Paman Yudi adalah Papa-nya Fani. Bukan Om Adi. Jadi mulai sekarang panggil Papa ke Paman Yudi ya?"

    Suara Mama yang lembut membuatku nggak bisa mengalihkan pandangan dari wajahnya. Sepertinya Mama akan menangis. Entah kenapa Mama ingin menangis.

    "Iya, Ma," jawabku. Aku sungguh-sungguh nggak ingin Mama menangis. Aku sudah cukup sering melihat Mama menangis ketika mendengar kata-kata kasar dari Nenek atau pun Om Adi.

    Jika dengan memanggil Paman Yudi sebagai Papa bisa membuat Mama berhenti menangis, maka akan aku lakukan hal itu.

    "Pa," panggilku. "Bagaimana kalo besok kita berenang di danau?"

    Papa tersenyum. "Iya, tapi besok Fani harus bangun pagi-pagi sekali ya?!"

    Aku mengangguk dan senyum mulai mengembang di wajah Mama.

    Terimakasih telah membaca Cerpen: Jalan Setapak, jangan lupa tinggalkan reaksi & komentar kalian di bawah ini. Jika kalian suka dengan artikel ini, support penulis dengan cara share artikel ini ke sosmed kalian 😊
    Meylani.Aryanti

    2 komentar:

    1. Om yudi papa baru.. �� realita kehidupan.. kadang sudah dengan sungguh2 menjaga kalau sudah takdir berpisah pasti berpisah entah karena ajal ataupun keegoisan semata..

      BalasHapus
      Balasan
      1. Iya, Plot twist di kehidupan nyata jg sering gitu 😁

        Hapus

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.