Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Tuhan, Kirimkan Aku Malaikatmu!

    Aku memutar kembali lagu milik Taylor Swift yang judulnya "Shake It Off". Lagu itu akan selalu menjadi favoritku sebab bersama lagu itulah aku menikmati hari-hari terakhirku bersama teman-temanku di sekolah yang lama.

    Aku ingat malam itu Evia, teman sebangku-ku, mengatakan dia akan sering-sering mengirimiku cerita tentang apa saja yang terjadi di kelas setelah kepindahanku.

    source: pinterest

    "Tapi kamu juga harus kasih tahu aku kayak apa teman-teman baru kamu nanti, ya, Lis!" katanya melanjutkan.

    Aku mengangguk. Semua kenangan selama hampir dua tahun bersekolah di SMA Harapan Bangsa tidak akan dengan mudah tergantikan begitu saja. Meski teman-teman baru di sekolahku nanti sekeren artis ibukota, aku nggak akan peduli.

    "Aku pasti bakal merindukan kamu dan yang lainnya," ujarku hampir menangis.

    Lagu Taylor Swift yang berganti membuatku kembali ke masa kini. Mulai besok aku akan menginjakkan kaki di SMA 17 Denpasar sebagai anak baru di kelas XI IPA 1 dan jujur saja aku sangat ketakutan. Apa aku akan mendapatkan teman sebaik Evia? Bagaimana kalau ternyata teman-teman baruku nanti menganggapku orang aneh?

    Aku menggeleng. Usiaku sudah tujuh belas tahun jadi aku bisa berbuat yang terbaik untuk diriku sendiri bila mendapat ancaman apapun.

    "Lisa, sudah waktunya makan. Ayo, kesini," teriak Mama dari ruang makan.

    Rumah ini sangat baru bagiku. Memang sih bukan hal baru untukku jika harus tinggal berpindah-pindah. Ayahku adalah anggota TNI aktif yang memang sudah menjadi bagian hidupnya selalu berpindah tugas setiap beberapa tahun sekali.

    Tapi baru kali ini aku terpaksa pindah di pertengahan tahun begini.

    "Kamu tadi lagi ngapain?" tanya Papa.

    "Dengerin lagu aja, Pa, sama beres-beres buku buat besok," jawabku.

    "Yah, baguslah. Sekolah baru kamu ini termasuk sekolah unggulan di Denpasar jadi kamu termasuk yang sangat beruntung langsung keterima di kelas IPA satu."

    Papa adalah sosok yang sangat terobsesi pada pendidikan. Baginya, aku dan adikku harus mendapatkan pendidikan yang terbaik agar masa depan cemerlang dapat kami raih. Papa nggak pernah percaya sama yang namanya bakat di bidang seni apalagi olahraga.

    Padahal aku suka sekali bermain gitar dan suatu hari nanti ingin berkarir di dunia musik sebagai gitaris.

    "Iya, Pa. Lisa udah baca berita soal sekolah baru Lisa tadi pagi di google. Ada banyak prestasi akademik-nya," ujarku mengomentari perkataan Papa tadi.

    "Kamu gugup, sayang?" tanya Mama yang sedari tadi sibuk dengan makan malamnya.

    "Agak gugup, Ma. Soalnya Lisa kan nggak tahu bakal dapat teman yang seperti apa. Lisa juga nggak tahu anak-anak disana sukanya apa."

    "Tenang aja. Paling-paling mereka juga sama kayak kamu dan teman-teman kamu dulu. Suka sama Blackpink."

    Mama bahkan bukan Mama yang baik. Dia tidak pernah sadar bahwa aku kurang menyukai girl band Korea. Aku suka Taylor Swift dan sudah begitu sejak aku kelas satu SMP.

    "Nadin bukannya juga suka sama Blackpink?" tanya Mama lagi.

    Mama masih saja menganggap aku berteman baik dengan Nadin, cewek yang menjadi tetanggaku di asrama TNI kami yang lama. Faktanya adalah aku bahkan sudah dua tahun nggak ngomong sama cewek itu. Dimulai sejak kejadian Nadin mengejek tas punggungku yang super besar itu.

    "Iya, dia suka Blackpink," ucapku singkat.

    "Kak Lisa kan suka Taylor Swift, Ma!" Adikku Leo ikut menimpali setelah dia muncul dari pintu belakang. Aku nggak tahu dia pergi kemana sejak siang tadi.

    "Kamu darimana, Leo?" tanyaku.

    Aku dan Leo hanya beda setahun. Dia juga diterima di SMA yang sama denganku. Mengingat hal ini, menjadikan hatiku sedikit tentram.

    "Main basket sama temenku," jawab Leo yang langsung mendapat pelototan dari Mama karena bau badannya yang menyebar ke seluruh ruang makan.

    "Kamu mandi dulu sana," teriak Mama sambil menutup hidungnya.

    Setelah menyelesaikan makan malamku, aku berpamitan pada Papa dan Mama menuju kamarku yang baru dan masih bau cat. Mama langsung mengiyakan. Padahal kalau diingat-ingat, seharusnya aku melakukan tugas membereskan piring kotor setelah makan. Barulah setelahnya aku mendapatkan ijin untuk masuk kamar.

    Kali ini Mama mungkin melihat wajah kusutku jadi aku bisa bebas dari tugas itu.

    Di dalam kamar, aku hanya berbaring terlentang di atas kasurku dan mencoba menebak kira-kira seperti apa teman-teman baruku besok. Hanya saja, rasa cemas yang tadi sempat berkurang, kini kembali melonjak.

    *****

    Aku sampai di sekolah pukul setengah tujuh pagi. Begitu memasuki pintu gerbang sekolah yang berhiaskan ukiran indah itu, aku disuguhkan dengan pemandangan beberapa cewek yang menunjuk-nunjuk ke arahku. Mereka pasti sudah mendengar tentang adanya siswi pindahan dari Surabaya.

    Sebenarnya aku berangkat ke sekolah berboncengan dengan adikku, Leo. Tapi di parkiran motor tadi dia sudah ber-high five dengan beberapa anak yang sepertinya sudah dia kenal sejak seabad lalu. Padahal Leo sama sepertiku baru saja pindah ke sekolah ini.

    Kelihatan banget betapa payah diriku.

    Aku menoleh kesana kemari mencoba mencari Leo meski aku tahu itu sia-sia saja. Ada harapan dalam diriku kalau aku bertindak begitu maka mungkin akan ada siswi yang berbaik hati menyapaku dan membantuku untuk hal yang bahkan aku nggak tahu apa.

    Tiba-tiba aku ingat bahwa saat mendaftar kesini dua hari yang lalu, guru bimbingan konseling yang menyambutku dan Papa mengatakan bahwa aku harus menemuinya di ruangannya pada hari pertama aku masuk sekolah. Aku pun memutuskan melakukan itu.

    "Selamat pagi, Bu," sapaku pada wanita yang sudah kutemui sebelumnya ini.

    "Lisa, selamat pagi," ucap guru yang baru aku ingat bernama Ayu setelah melihat name tag-nya.

    "Saya bisa langsung ke kelas, Bu?" tanyaku gugup.

    Ya, aku gugup sekali. Ingin sekali rasanya aku masuk ke dalam lemari dan tinggal disana sampai jam pulang sekolah siang nanti. Kemarin aku bahkan berkhayal Tuhan mengirimkan malaikatnya untukku agar aku bisa percaya diri.

    Jujur saja aku bukan siswi dengan rasa percaya diri yang tinggi. Aku sering nggak nyaman dengan rambutku yang super keriting. Aku takut anak-anak lain akan mengejekku soal rambut ini.

    "Sabar dulu, ya, Lisa," ucap Bu Ayu. "Kamu disini saja dulu. Nanti setelah bel tanda masuk kelas berbunyi, ibu antar kamu ke kelas."

    Menunggu membuatku semakin sengsara. Aku heran sejak tadi nggak menemukan Leo padahal seharusnya dia juga berada di ruangan ini untuk sesi perkenalan nanti. Tapi sudahlah. Biarkan saja dia.

    Apa yang aku tunggu akhirnya berdering. Tanganku semakin lembab ketika Bu Ayu berdiri dan mengajakku berjalan menuju kelas XI IPA 1.

    Di depan kelas, Bu Ayu melakukan basa basi yang aku benci. Misalnya saja dia bilang murid baru ini (yaitu aku) pindahan dari Surabaya dan rumahku berdekatan dengan rumah Via Vallen. Aku ingin sekali berteriak di telinga Bu Ayu bahwa aku benci Via Vallen.

    Beberapa anak lelaki tertawa dan bilang aku harus menyanyikan lagu Via Vallen yang membuatku tambah gugup. Untung saja Bu Ayu memerhatikan wajah pucatku dan hanya memintaku memperkenalkan diri.

    "Hai, nama aku Lisa Andini," kataku dengan suara gemetar.

    "Kamu penggemar Blackpink, ya?" tanya salah seorang murid lelaki yang duduk di pojok belakang sebelah timur.

    Pertanyaannya itu diikuti suara tawa anak-anak lainnya dan tanganku seolah sudah banjir keringat.

    "Oke, cukup," teriak Bu Ayu mencoba mengalahkan suara ribut teman-teman baruku. "Lisa, untuk sementara kamu duduk di dekat Hendra dulu ya."

    Aku mengikuti arah pandang Bu Ayu dan melihat sebuah tempat kosong di samping seorang siswa yang wajahnya terlihat mengantuk. Aku melangkahkan kakiku dengan lemas kesana dan nggak lupa aku menunduk agar aku bisa melihat bila ada anak iseng yang tiba-tiba menjulurkan kakinya untuk membuatku terjungkal.

    Aku sampai di kursi itu dan segera mengenyakkan pantatku di atas kursi yang terasa bagaikan es kutub selatan.

    Hendra bukan orang yang ramah. Sepanjangan pelajaran pagi itu dia nggak mengucapkan apa-apa. Bahkan dengan kejamnya dia tidak mau meminjamkan aku buku pelajaran yang tidak aku miliki.

    Ketika bel istirahat pertama berdering, hanya ada tiga siswi yang menyapaku dan mengajakku berkenalan. Salah satu dari mereka bernama Anita yang mengatakan padaku bahwa ayahnya juga tentara. Hanya saja, dia nggak tinggal di asrama sepertiku.

    "Papa kamu tugas di Kodam juga?" tanyaku.

    "Nggak di Kodam sih tepatnya. Ayahku di Polisi Militer," jawab Anita. "Kamu nggak mau ke kantin, Lis?"

    "Memangnya kamu mau kesana? Aku tadi sebenarnya sudah sarapan, sih. Masih kenyang."

    "Nggak juga sih. Aku sama kayak kamu, sudah sarapan."

    Aku tersenyum. "Mau anter aku ke perpustakaan?"

    Anita mengangguk dan aku segera menyamai langkahnya menuju tempat yang aku sebutkan tadi.

    *****

    Malam itu aku mengerjakan dengan tekun tugas matematika yang aku dapatkan pada siang sebelumnya di sekolah. Aku bahkan melupakan adikku yang sejak sore memintaku membantunya mengarang pidato bahasa Inggris.

    "Kak Lisa, udah selesai belum?" tanya Leo yang menjulurkan kepalanya dari balik pintu kamarku.

    "Dikit lagi. Kamu tunggu aja dulu di ruang tamu," ucapku.

    Tidak seperti diriku yang suka belajar di dalam kamar, adikku suka sekali belajar di ruang tamu sambil menonton acara televisi favoritnya.

    Saat akan berpindah ke ruang tamu untuk membantu adikku, tiba-tiba saja ponselku yang aku letakkan di atas kasur bergetar. Ada pesan yang masuk.

    Aku meraih benda itu dan sambil mengecek pesan yang masuk, aku berjalan ke tempat Leo sudah menunggu. Ada dua pesan dari Evia yang menanyakan kabar teman baruku. Aku hanya memberikan balasan satu kata: payah!

    Kemudian aku membuka pesan direct di Instagram dan menemukan sebuah pesan dari teman yang bahkan nggak aku tahu wajah aslinya. Kami sudah berteman sejak enam bulan yang lalu. Aku merasa cocok dengannya sebab sama sepertiku, dia juga menyukai gitar.

    Aku mengklik pesan itu. Nama akun temanku itu unik sekali: @a.priori

    @a.priori: Lisa, masa kamu nggak nyadar itu aku?

    Aku pun langsung memberikan balasan.

    @lisaaa.annn: maksud kamu gimana?

    @a.priori: dasar anak baru

    Aku melotot.

    @lisaaa.annn: apaan sih?

    @a.priori: anak baru. Kelas XI IPA 1. SMA 17 Denpasar.

    @lisaaa.annn: kamu yang mana?

    @a.priori: yang kesel di sebelah kamu

    Aku langsung mengirimkan banyak emoticon tertawa. Jadi teman yang namanya @a.priori di Instagram adalah Hendra teman dudukku?

    @lisaaa.annn: tapi gimana kamu tahu itu aku??? *sangatpenasaran*

    @a.priori: besok aku cerita di sekolah.

    Sumpah aku sangat kecewa dengan jawaban Hendra. Tapi apa boleh buat. Aku tetap harus menunggu hingga esok tiba. Aku merasa senang sekali malam ini dan sepertinya tanpa sadar bibirku tertarik ke atas.

    "Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Leo yang sejak tadi terpaksa menunggu aku selesai chatting.

    "Bukan apa-apa," jawabku.

    Tuhan sepertinya sudah menurunkan malaikatnya untukku. Terima kasih Tuhan!

    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.