Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Sebuah Rencana

    Aku selalu suka sunset. Ada rasa tenang yang menjalar dalam hatiku ketika memandang ke ufuk barat melihat mata hari terbenam. Aku juga suka pasir pantai yang terasa kasar di kakiku.

    Tapi Revan benci semua itu. Sejak tadi dia terus mengeluh. Ada aliran keringat di dahinya yang sepertinya lupa dia seka.

    "Kenapa nggak di sebelah sana saja?" ucapnya sambil melotot ke arah asisten fotografer. Revan menunjuk ke arah batu karang yang paling kecil.

    source: imgur.com

    Laki-laki yang kelihatannya baru tamat SMA itu hanya tersenyum kecut. Aku rasa Revan melontarkan keluhannya ke pihak yang salah.

    "Sabar, Rev," ucap Nita, si fotografer yang sebenarnya. "Aku ingin sunset-nya benar-benar jadi latar belakang foto kalian."

    Ini adalah ideku untuk melakukan sesi foto prewedding di pantai. Dua Minggu lalu, keluarga besarku dan Revan sempat berdebat soal lokasi foto. Karena nggak menemukan kesepakatan, akhirnya dilakukan pengundian siapa yang menentukan lokasinya.

    Namaku-lah yang muncul setelah pengundian itu. Dan aku memilih pantai.

    "Kenapa kamu harus memilih pantai, sih, Sel?" kata Revan padaku. Wajahnya masih terlihat kesal.

    "Aku suka pantai," jawabku singkat.

    Revan berdiri dan berjalan menuju ke arah tempat parkir. Aku yakin dia ingin mendinginkan diri di dalam mobilnya. Setelah kendaraan itu kotor oleh pasir, dia pasti akan kembali ke lokasi pemotretan sambil mengeluh lebih keras soal mobilnya yang kotor.

    "Aku nggak percaya kamu bakal menghabiskan sisa hidupmu bareng orang kayak begitu," ujar Nita.

    Nita adalah sahabat kentalku sejak SMA. Dia sebenarnya tahu seleraku seperti apa. Ketika aku mengumumkan akan menikah dengan Revan, dia adalah orang pertama yang protes.

    Tapi aku juga nggak bisa apa-apa.

    "Kamu pikir aku mau?" ucapku.

    "Seharusnya dari awal kamu akhiri semua ini, Selina. Sejak ibumu mengenalkan kalian berdua, harusnya kamu langsung memblokir pria itu dari hidupmu."

    Aku hanya bisa menghela napas.

    Selama sisa pemotretan itu, Revan masih saja mengeluh. Aku sudah tahu akan menghadapi masa depan seperti apa. Karena itulah, ketika pertemuan antara keluargaku dan keluarga Revan berlangsung untuk merencanakan pernikahan kami, aku juga merencanakan sesuatu di dalam kepalaku.

    *****

    Menyimpan rahasia itu benar-benar membuatku nggak bisa tenang. Aku selalu berpikir bahwa orang-orang yang aku temui dan berbicara denganku tahu apa yang ada dalam pikiranku.

    "Kamu udah masukin baju-bajumu ke koper, Selina?" tanya Mama sambil membereskan meja makan.

    Aku menutup majalah yang aku baca. Ada rasa gugup yang mulai menjalar dalam dadaku.

    "Belum, Ma. Besok aja. Aku cuma mau bawa baju dikit aja. Nanti selesai acara nikahan baru aku angkut semuanya," jawabku.

    "Kok kamu kayak nggak semangat gitu? Bawa aja agak banyak. Siapa tahu Revan ngajak kamu keliling ketemu keluarga besarnya."

    "Iya, entar malem aja aku beresin."

    "Kamu lagi sibuk apa sih? Kamu bikin rencana apa?"

    Aku hampir saja jatuh menggelinding dari sofa yang aku duduki.

    "Maksud Mama apa?" tanyaku.

    "Kamu kan mau nikah minggu depan, setidaknya kamu lakukan persiapan yang bagus," ucap Mama. Dia mulai mengangkut piring-piring yang tadi dirapikannya ke dapur.

    Melihat kesempatan itu, aku segera bangkit dan masuk ke kamarku. Aku nggak mau Mama berbicara yang aneh-aneh lagi dan membuatku ketakutan.

    *****

    Dengan Revan aku bisa bersikap biasa-biasa saja. Aku bisa menunjukkan ekspresi wajah yang datar ketika dia bahkan terang-terangan menuduhku memikirkan sesuatu yang akan membuat lelaki itu rugi.

    "Jadi kamu mau bilang kalo aku bakal menghabiskan harta kamu terus kabur, gitu?" tanyaku.

    "Siapa tahu?" Revan nggak terlalu peduli dengan nada suaraku yang meninggi.

    "Bisa ya, kamu ngomong gitu ke calon istri kamu?"

    "Ini negara demokrasi, Selina, aku bisa ngomong apa saja ke siapa saja."

    "Oke. Ini negara merdeka dan aku manusia merdeka. Aku bisa melakukan apa saja ke siapa saja."

    Aku sebenarnya sudah membongkar kedokku sendiri dengan berkata begitu. Tindakan yang belakangan aku sesali. Akan tetapi, Revan sepertinya nggak menyadari apapun. Dia terus saja berbicara nggak jelas tentang kewajiban istri pada suami.

    "Darimana kamu dapat ilmu kalo jadi istri harus kayak babu begitu?" tanyaku kesal.

    "Dari dulu memang selalu begitu kan jalan ceritanya?"

    "Jadi kamu mau ngikutin jalan yang salah itu?"

    "Kalo salah, udah dari dulu ditinggal, Sel."

    Aku semakin yakin bahwa rencana yang sudah aku susun selama berminggu-minggu ini harus terlaksana dengan baik. Aku nggak akan membiarkan secuil pun aksiku ini nantinya bocor.

    *****

    Aku yakin Nita adalah orang yang nggak akan bisa aku bohongi. Sejak pertama kali berkenalan, dia selalu bisa menyadari gelagatku yang aneh. Dan setelahnya, dia pun akan melakukan interogasi untuk mengetahui penyebab keanehanku.

    Saat makan siang hari itu aku merasa sedikit gugup. Aku kira Nita akan langsung melakukan interogasinya yang menakutkan tetapi dia malah sibuk menyuruhku banyak bersabar.

    "Pokoknya nanti kalo ada apa-apa, kamu telpon aku. Kalo Revan sampai berani bersikap keras, aku bakal telpon kakakku yang tugas di Polda," ucap Nita berapi-api.

    Dia punya dua kakak lelaki yang berprofesi sebagai polisi.

    "Oke, tenang aja. Namamu ada diurutan paling atas orang yang bakal aku mintai tolong."

    "Aku yakin banget Revan bakal sering bikin kamu sakit hati. Lihat aja tingkahnya pas pemotretan Minggu lalu. Nge-bos banget seolah-olah dia orang paling penting."

    "Dia emang gitu. Tapi orangnya gampang banget buat dibohongi,"

    "Gampang dibohongi?"

    Aku gugup melihat mata Nita yang melotot. Aku pikir dia bisa membaca rencanaku.

    "Iya, contohnya aja sekarang. Dia bilang sebelum pernikahan aku nggak boleh ketemu sama siapapun tapi tadi aku cuma bilang mau beli handuk dan dia langsung percaya gitu aja," jelasku.

    "Asik dong," ucap Nita tersenyum genit.

    "Maksud kamu apa tersenyum kayak gitu?"

    "Nggak ada. Cuma tersenyum aja," ujar Nita.

    Pertemuan dengan Nita siang itu berjalan lancar. Sebelum berpisah dia terus mengingatkan aku soal harus melapor padanya bila ada yang aneh pada Revan.

    *****

    Malam sebelum hari pernikahan...
    Aku mondar mandir di kamar. Jantungku berdebar kencang dan tanganku mengeluarkan keringat dingin. Terus terang selama masa hidupku yang sudah 27 tahun ini, aku belum pernah melakukan hal yang bisa membuat kehebohan.

    Aku adalah wanita baik-baik yang selalu menjaga nama baik keluargaku. Aku selalu mengikuti keinginan kedua orang tuaku. Ketika mereka ingin menikahkan aku dengan anak sahabat mereka, aku pun patuh dengan baiknya.

    Tapi aku juga ingin melakukan hal-hal yang memang aku inginkan sendiri. Aku ingin bebas menentukan pilihan aku sendiri. Aku sadar sejak awal aku nggak akan pernah bahagia bila bersama Revan.

    Pria itu, dia sama saja dengan kedua orang tuaku yang selalu mau keinginannya dipenuhi tanpa ada perlawanan.

    Maka aku pun melangkahkan kakiku keluar kamar. Di teras depan rumahku sudah ada beberapa saudara yang sedang mengobrol. Aku menyapa mereka satu persatu sebelum akhirnya bertemu dengan ibuku di dapur.

    "Ma, aku mau keluar sebentar ya, mau beli pembersih wajah di mini market. Punyaku hampir habis. Takut nggak cukup pas dipakai setelah hari pernikahan," ucapku santai.

    Tapi jantungku nggak sesantai itu.

    Mama menengadah dari baskom yang sedang dipegangnya. Rupanya Mama sedang membuat adonan kue.

    "Suruh aja Nina. Dia ada di teras," kata Mama lalu kembali lagi ke adonannya.

    "Aku tadi baru dari teras. Dia nggak ada disana."

    Karena memang Nina nggak ada disana.

    "Ya udah. Tapi jangan jauh-jauh, ya?!"

    "Oke, Ma. Makasih banyak."

    Aku keluar ke halaman dan melompat ke atas sepeda motorku.

    Setelah keluar dari jalan perumahan tempat aku tinggal, aku menuju mini market terdekat. Aku turun sejenak disana dan mengambil helm dari dalam bagasi motorku. Aku juga mengenakan jaket yang sudah aku simpan di dalamnya. Terlihat beberapa potong pakaian disana serta dompet favoritku yang berwarna ungu.

    Inilah rencanaku. Aku mengendarai motorku menjauhi mini market itu. Aku pun menuju ke tempat yang sudah aku tentukan sebelumnya. Aku harus menjauh dari esok yang akan segera tiba.

    TAMAT

    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.