Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Satu Kesempatan

    Apa yang terjadi padaku siang tadi membuatku kembali terduduk di dekat jendela kamarku. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku duduk disini. Hanya perlu tetesan hujan dari langit maka semuanya akan menjadi sempurna.

    Aku menyambar handphone yang tergeletak di atas tempat tidurku. Ada satu hal lagi yang akan melengkapi renunganku malam ini. Lagu itu. Lagu milik Bunga Citra Lestari yang berjudul Sunny. Lagu itu sudah lama nggak aku dengarkan. Dan hari ini aku ingin kembali merasakan semua sensasi yang dulu sering aku rasakan.

    source: imgur.com

    7 jam sebelumnya...
    Aku akhirnya bisa kembali ke perpustakaan umum dekat rumahku setelah hampir setengah tahun sibuk bekerja di restoran. Aku bukan chef atau manajer di restoran itu. Aku hanya seorang admin dan karena teman yang biasa menjadi tandemku mengundurkan diri, semua pekerjaan yang dia tinggalkan harus aku selesaikan sendiri.

    Baru minggu lalu atasanku menemukan pengganti yang pas untuk posisi itu. Dan aku pun terselamatkan dari kerja rodi.

    Seperti biasa, saat sampai di perpustakaan aku mengecek buku-buku di ruang baca anak-anak. Aku suka melihat buku-buku penuh warna dan gambar. Menyenangkan dan membuat cerah hariku.

    Setelah puas disana, barulah aku naik ke ruang bacaan umum. Yang selalu aku cari adalah novel. Jenis buku ini sudah mulai aku baca sejak di bangku SMP. Diantara semua novel, aku paling suka genre romance comedy. Sama seperti buku bacaan anak, novel jenis ini membuat hariku ceria.

    Tapi entah kenapa hari ini aku malah melangkahkan kakiku ke rak khusus tempat buku-buku fotografi di pajang.

    Aku sendiri nggak tahu apa yang akan aku cari. Belakangan ini aku memang mulai memposting foto di Instagram-ku. Aku tertarik ambil bagian dalam komunitas bookstagram Indonesia.

    "Sarah..."

    Sebuah suara membuatku menjatuhkan buku yang bahkan belum sempat aku baca judulnya.

    Aku memungut buku itu kemudian beralih ke arah pemilik suara itu. Begitu mataku sampai pada sosok yang ada dihadapanku, aku hampir saja kembali menjatuhkan buku yang baru saja aku ambil.

    "Ardi..." ucapku lemas. Aku seperti orang yang bakal segera pingsan.

    "Iya, ini aku. Kamu masih bisa mengenali aku, Sar?"

    "Iya, tentu aja masih bisa, Di... Kamu nggak banyak berubah," ujarku dengan suara bergetar.

    Ardi. Aku sudah mengenalnya sejak SMA. Dia adalah cowok yang membuatku menolak ajakan Deva pergi nonton konser SID dan jangan lupakan juga beberapa cowok lainnya.

    "Aku sekarang pakai jenggot dan kumis. Aku kira kamu nggak bakal kenal," ucap Ardi sambil menyugar rambutnya.

    Dia masih keren seperti dulu.

    Aku tertawa. "Kamu masih seperti Ardi yang aku ingat dulu."

    "Kamu nggak kerja, Sar?"

    "Lagi libur. Kamu sendiri gimana?"

    "Aku kerja freelance. Dan kebetulan nggak ada proyek buat seminggu ke depan."

    "Wow, keren. Kamu freelancer? Bidang apa?"

    "Fotografi, Sar. Kamu sendiri kerja dimana?"

    "Aku kerja di restoran."

    "Chef?"

    "Bukanlah, Di," jawabku sambil tertawa. "Aku di bagian administrasi."

    Kami kemudian memutuskan untuk melanjutkan obrolan di kafe terdekat. Rasanya seperti mimpi yang jadi nyata. Dulu saat masih SMA aku sangat mendambakan momen kayak begini.

    "Udah berapa lama ya kita nggak ketemu?" tanya Ardi, kemudian menyeruput jus alpukat yang dipesannya.

    Aku sendiri memesan jus semangka. Favoritku sejak kecil.

    "Udah sepuluh tahun kayaknya," jawabku.

    "Lama juga, ya. Oh ya, Sar, kamu udah nikah?"

    Aku kembali tertawa. Entah kenapa aku ingin tertawa terus dari tadi. Apa ini karena pengaruh perasaan terpendamku untuk Ardi? Dan Ardi menanyakan status pernikahanku. Apa yang dia pikirkan.

    "Belum, Di," jawabku gugup. "Kamu sendiri gimana?"

    "Aku juga belum. Orang-orang udah pada ngomongin aku gara-gara masih aja jomblo di umur segini."

    "Kamu pikir aku nggak gitu? Sama tahu..."

    "Hehehehe... Ternyata aku nggak sendirian..."

    Aku juga tertawa. "Kamu masih kontak-kontak sama temen-temen di SMA?"

    "Masih tapi cuma sama beberapa orang aja. Yang lainnya kayak nggak kenal sama aku."

    "Masih untung kamu ada kontak sama mereka. Aku nggak ada satu pun."

    "Wah, berarti aku orang pertama yang kamu ajak ngobrol setelah sekian tahun dong?!"

    "Iya, waktu kuliah aku sempat kontak sama beberapa teman sekelas aku. Tapi sama kayak kamu, lama-lama mereka asik sama dunia barunya."

    Ardi kembali tersenyum. "Oh ya, Sar, Sabtu nanti kamu sibuk?"

    "Kalo Sabtu sih aku kerja sampai jam dua sore. Setelah itu bebas kecuali kalo ada lembur. Ada apa emangnya?"

    Ardi tersenyum. "Gimana kalo kita jalan Sabtu ini?" ucapnya sambil mengaduk jusnya.

    Aku merasa seolah-olah ada semut yang merayap di perutku. Perasaan itu berubah dengan cepat menjadi rasa mual. Aku hampir saja memuntahkan kembali jus yang baru saja aku minum.

    "Jalan kemana?" tanyaku.

    "Gimana kalo nonton di Galeria? Pulangnya bisa nongkrong di pantai," jawab Ardi.

    "Oke," ucapku. Kemudian aku malah menambahkan kalimat yang aku sesali. "Mudah mudahan aja nggak ada lembur ya."

    "Oke, kamu kontak aku aja kalo ada lembur. Biar bisa cari hari lainnya."

    Ardi kemudian meminta nomer handphone-ku dan dengan suara gemetar aku mengucapkan nomer itu.

    *****

    Lagu yang dinyanyikan Bunga Citra Lestari masih mengalun. Aku terhanyut dalam bayangan masa lalu ketika aku masih seorang remaja yang sedang jatuh cinta. Aku ingat bagaimana aku berusaha mati matian mendapatkan nomer telpon Ardi. Bahkan aku terpaksa mengakrabkan diri dengan para cewek populer.

    Karena nggak ada hasil, aku kembali meratapi nasibku yang sial. Aku memang nggak sekelas dengan Ardi. Dia anak IPA sedangkan aku anak IPS. Yang terburuk, aku nggak punya teman dekat yang sekelas dengan Ardi.

    Tapi ada masanya dimana memang keajaiban selalu muncul. Aku ingat pernah ditolong oleh Ardi menggeser motorku yang terjebak diantara motor lainnya ketika pulang sekolah. Nggak ada percakapan diantara kami. Hanya ucapan terima kasih dariku.

    Semakin lama lagu Sunny semakin memberikan gambaran menyedihkan tentang kisah cintaku di masa lalu. Ada banyak momen dimana aku sadar bahwa apa yang aku rasakan ke Ardi hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan. Cowok itu bahkan nggak sadar ada aku di sekitarnya.

    Beberapa kali aku memutuskan untuk menyerah tapi di banyak kesempatan aku tetap bertahan dengan perasaanku. Aku memang akhirnya bisa berkomunikasi dengan Ardi. Tapi menurutku, itu komunikasi satu arah. Hanya aku yang aktif bertanya dan dia sepertinya hanya menjawab seadanya.

    Sampai akhirnya Ardi pacaran sama cewek dari kelas Bahasa. Awalnya perasaanku hancur berkeping-keping. Tapi seiring berjalannya waktu, aku kembali mendambakan Ardi.

    Setelah tamat SMA dan karena kami diterima di Universitas yang berbeda, aku pernah menulis di buku harianku bahwa Ardi akan mendapatkan tempat istimewa di hatiku. Inilah yang membuat aku menjadi selalu memikirkan cowok itu tiap kali ada cowok yang mendekati aku di kampus.

    Pikiranku semakin menggila. Bayangan dimana Ardi yang melintas di depan kelasku sambil tersenyum terus berkelebat. Di sisi lain hatiku merasakan perasaan ditolak yang menyakitkan. Aku bingung.

    Aku nggak tahu apa yang akan aku putuskan Sabtu nanti.

    *****

    Sabtu pagi aku memasang wajah masam ketika memasuki ruang kerjaku. Aku tahu hari ini nggak akan ada lembur.

    "Kenapa?" tanya Nina, salah satu chef yang bertugas hari ini.

    "Kamu kok disini?"

    "Yah, kamu kok ditanya malah balik nanya? Ada masalah apa?"

    "Nggak ada..."

    "Yakin nggak ada? Kamu lagi patah hati, ya?"

    Aku memandangi Nina. Otakku sedang menimbang apakah akan mengatakan semuanya pada cewek ini atau nggak. Aku tahu Nina bukan cewek yang suka membocorkan rahasia. Tapi aku akan malu seandainya dia menertawakan masalahku yang sangat sepele ini.

    Aku putuskan untuk memberitahu Nina. Aku ceritakan semua yang terjadi awal pekan ini di perpustakaan umum.

    "Dateng aja," ucap Nina santai. "Nggak ada salahnya. Anggap aja reuni."

    "Tapi aku jadi ragu. Aku ingat kembali semua kejadian di masa SMA dulu dan aku ngerasa menjadi pecundang."

    Nina memandangi aku seolah-olah aku alien dari Pluto. "Itu masa lalu, Sar. Kamu hidup untuk hari ini dan masa depan."

    "Tapi Nin..."

    "Semua perasaan ragu yang muncul sekarang memang wajar. Kamu tahu kenapa begitu?"

    Aku menggeleng.

    "Itu karena kamu merasa takut kalo kalo kamu mengalami seperti kejadian saat SMA dulu. Lupakan aja itu, Sar. Semua udah berubah. Kamu udah banyak berubah dan aku yakin cowok itu juga pasti banyak berubah."

    Aku masih memandangi Nina. Kepalaku masih mengolah semua informasi yang dia berikan.

    "Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?" Nina protes.

    "Aku lagi mikir."

    "Mikir apa lagi? Udah deh, sekarang kamu chat cowok itu terus bilang kamu nggak ada lembur sore ini."

    Aku mengerjapkan mataku berkali-kali.

    "Ada apa lagi?" tanya Nina. "Sar, jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri. Kasih dirimu satu kesempatan untuk bahagia."

    "Gimana kalo..."

    "Jangan terlalu banyak mengajukan pertanyaan. Jalani aja, Sar."

    Aku mengangguk. Aku segera mengeluarkan handphone dan mengetikkan kalimat untuk dikirim kepada Ardi.

    TAMAT


    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.