Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Mama

    Aku memandangi beberapa anak perempuan yang berebut naik ke atas perosotan. Mereka ingin menjadi yang paling pertama dan saat salah satu dari mereka jatuh terduduk karena dorongan yang lain, tangis pun meledak.

    Aku nggak suka berebut seperti itu. Aku lebih suka duduk dan memperhatikan. Mama selalu khawatir bila aku bermain dengan anak-anak perempuan yang suka berebut. Kata Mama, dia ketakutan sekali bila aku sampai terluka saat bermain.

    source: etsy.com

    Jadi aku nggak mau membuat Mama ketakutan lalu bersedih.

    Mama sejak tadi masih duduk di dekat pohon Ketapang besar bersama barang dagangannya. Kata Mama hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan uang agar kami bisa membeli makanan.

    Papa sudah lama pergi. Meski Mama mengatakan bahwa Papa pergi ke pulau yang jauh di timur Indonesia, aku tahu kenyataannya nggak seperti itu. Aku tahu Papa pergi bersama wanita lain. Papa sudah punya keluarga baru lagi dan meninggalkan aku serta Mama.

    Sudah setahun lebih Mama berjualan di Taman Kota ini. Selama setahun itu aku selalu menemaninya. Aku nggak bersekolah seperti kebanyakan anak usia tujuh tahun sepertiku. Kata Mama, dia nggak punya uang untuk membayar biaya sekolahku.

    "Kamu sama siapa disini, sayang?" sebuah suara yang sangat lembut membuatku terkejut.

    Aku menoleh ke arah suara tersebut. Seorang wanita cantik dengan dandanan yang menor tersenyum kepadaku.

    "Sama Mama," jawabku.

    Mama selalu mengatakan padaku bahwa aku harus berhati-hati bila ada orang asing yang mendekatiku dan mengajakku mengobrol. Bisa jadi dia berniat jelek seperti melakukan penculikan.

    Aku takut mengingat ucapan Mama itu.

    "Mama kamu dimana?" tanya wanita itu lagi.

    "Itu disana, di bawah pohon Ketapang yang besar itu,"

    Si wanita dengan dandanan menor mengikuti jari telunjukku.

    "Oh, disana," ucapnya pelan.

    Aku kemudian mengatakan pada wanita itu akan menemui Mama dan dia menyuruhku untuk hati-hati.

    Senang rasanya bisa bebas dari wanita itu. Ketika sampai di tempat Mama berjualan, aku menceritakan padanya tentang wanita itu.

    "Mama selalu memperhatikan kamu dari sini, kok Nina sayang," Mama mengelus rambutku.

    Aku paling senang bila Mama sudah melakukan itu. Aku merasa seperti anak paling beruntung sedunia. Meski aku nggak pergi sekolah, tapi aku punya Mama yang menyayangi aku dan selalu mengajariku banyak hal.

    "Apa menurut Mama wanita itu bakal menculikku?" tanyaku.

    "Mama nggak tahu, sayang. Tapi kelihatannya dia wanita baik."

    "Suaranya lembut sekali, Ma. Seperti suara malaikat."

    "Kamu kan belum pernah bertemu malaikat. Jadi bagaimana kamu bisa tahu suara malaikat seperti apa?"

    "Aku tahu saja. Suaranya lembut seperti Mama dan bagiku Mama adalah malaikat."

    "Makasih, Nina, sayang."

    *****

    Sejak seminggu yang lalu, dagangan Mama nggak laku. Orang-orang sepertinya nggak menyadari bahwa Mama juga pedagang di Taman Kota ini. Padahal barang dagangan Mama hampir sama dengan pedagang-pedagang lainnya tapi sepertinya mereka nggak melihat Mama.

    Aku bertanya pada Mama kenapa tidak ada yang berbelanja padanya.

    "Mungkin orang-orang hanya berbelanja ke pedagang yang dekat dengan jangkauan mereka. Dan mungkin kebetulan orang-orang yang dekat dengan Mama sedang tidak ingin belanja," jawab Mama.

    Mama selalu bijaksana. Dia nggak pernah mengeluh meski sedang dalam keadaan yang sangat sulit sekali pun.

    "Apa aku boleh bantu Mama?" tanyaku.

    "Nggak perlu, sayang. Mama nggak mau kamu capek," ucap Mama. "Kamu main aja sama anak-anak disana."

    "Tapi Ma..."

    "Nanti pasti ada yang beli dagangan Mama."

    Aku percaya pada Mama. Jadi aku pun kemudian bergabung dengan anak-anak yang sedang bermain ayunan. Salah satunya sudah aku kenal dengan baik. Namanya Anita.

    "Kamu nanti pulang sama siapa, Nina?" tanya Anita ketika aku sampai di sampingnya.

    "Aku pulang sama Mama. Memangnya kenapa?"

    "Kata Mama-ku kemarin kamu pulang sendirian."

    "Aku nggak pernah pulang sendirian. Aku selalu pulang sama Mama."

    "Aku juga pernah lihat kamu pulang sendirian," ucap seorang anak perempuan yang nggak aku tahu namanya. Tapi dia juga sering bermain bersama Anita di tempat ini.

    "Sudah aku bilang aku selalu pulang sama Mama!"

    Karena kesal aku pergi dari tempat itu. Kenapa sih mereka menuduhku begitu. Aku selalu pulang sama Mama. Nggak pernah sekalipun aku pulang sendirian. Aku kan hanya seorang anak perempuan umur tujuh tahun.

    *****

    Aku mengungsi ke depan air mancur yang ada di tengah-tengah Taman. Anak-anak tadi membuatku sangat kesal.

    Mungkin karena rasa kesal itu pula perutku menjadi sangat lapar. Aku sadar aku belum makan sejak tadi pagi. Hanya minum sebotol air mineral yang diberikan oleh seorang pedagang yang mengenal Mama dengan baik.

    Untuk menghilangkan rasa laparku, aku duduk di tepian air mancur. Ada percikan air yang membasahi celanaku yang sudah sedikit kotor dan ada sobekan kecil di pinggir bawahnya. Aku nggak punya banyak pakaian dan aku nggak mau meminta Mama membelikanku pakaian baru sebab aku tahu Mama sedang susah sekarang.

    "Kamu belum makan, ya?" tanya seorang anak laki-laki padaku.

    Anak laki-laki itu berpakaian sangat bagus. Dia juga sangat harum. Sepertinya dia sudah mandi.

    Aku menggeleng. Malu rasanya mengakui aku belum makan apapun sejak pagi. Jadi aku hanya terdiam memperhatikan anak itu yang mengeluarkan sebungkus roti dari tas punggungnya.

    "Ini buat kamu aja!" kata anak itu.

    "Kamu nanti makan apa?"

    "Aku belum lapar. Lagian aku masih punya sebungkus lagi di dalam tasku."

    "Terima kasih, ya!'

    Aku makan dengan lahapnya setelah anak itu pergi dariku. Bahkan aku sampai lupa memperhatikan anak itu berlari ke arah mana. Aku juga lupa menanyakan siapa namanya. Tapi aku sudah mengucapkan terima kasih. Itu yang terpenting.

    *****

    Seperti kebiasaan kami sebelumnya, sore itu aku pulang ke rumah ditemani Mama. Rumah kami berjarak cukup jauh dari Taman Kota. Aku dan Mama harus menghabiskan waktu 20 menit untuk sampai ke rumah kami dengan berjalan kaki.

    Kalau sudah berjalan bersama Mama aku sama sekali nggak akan merasa kecapekan. Aku akan memegangi sebelah tangan Mama. Tangan Mama yang satu lagi digunakan untuk membawa sebuah tas besar yang berisi barang dagangannya.

    Sudah seminggu ini aku merasakan tangan Mama begitu dingin tiap kali aku pegangi. Apa Mama sedang sakit? Aku nggak berani bertanya pada Mama sebab takut Mama akan mengatakan hal yang membuatku sedih.

    Tapi aku penasaran juga apa yang sedang terjadi pada Mama sehingga membuat tangannya sangat dingin.

    "Kenapa tangan Mama dingin sekali, Ma?" tanyaku.

    Cukup lama Mama nggak menjawab pertanyaanku. Kami berjalan melewati minimarket terkenal itu dan Mama belum juga berkata apa-apa.

    Apa Mama marah karena aku sudah bertanya?

    "Mama nggak kenapa-kenapa, sayang," jawab Mama akhirnya saat kami melewati bengkel motor tempat Pak Rudi tetangga kami bekerja. Tapi bengkelnya sudah tutup.

    "Apa Mama sakit?"

    "Mama hanya sedikit capek, Nina."

    Aku memutuskan untuk diam. Ketika jarak rumah kami sudah dekat, aku melepaskan pegangan tanganku dari tangan Mama. Aku berjalan mendahului Mama.

    Saat itulah aku melihat ada banyak kendaraan di depan rumah kami. Ada sebuah mobil polisi yang lampu sirine-nya masih berpendar-pendar menerangi sekitarnya tapi nggak mengeluarkan suara apapun. Ada juga sebuah mobil jenazah.

    Aku langsung memikirkan sebuah alasan kenapa bisa ada mobil polisi dan mobil jenazah di depan rumah kami. Pasti ada tetangga kami yang mengalami kecelakaan dan tidak bisa tertolong lagi. Apa mungkin Pak Dedi jatuh dari pohon kelapa? Pak Dedi punya pekerjaan aneh yaitu dia sering memanjat pohon kelapa dan orang akan memberikan sejumlah uang padanya setelah dia turun dari atas pohon.

    Karena sangat penasaran, aku membalikkan badan untuk bertanya kira-kira apa yang sedang terjadi. Mama pasti tahu sesuatu. Dia kan orang dewasa.

    Tapi Mama sudah nggak ada ketika aku berbalik. Mama menghilang. Aku memanggil-manggilnya beberapa kali tapi tidak ada jawaban.

    Suara teriakanku rupanya memancing seorang polisi wanita mendekat ke arahku.

    "Kamu pasti Nina, ya?" tanya Ibu Polisi itu.

    "Darimana Ibu tahu nama saya?"

    "Tante tahu saja. Tante punya foto kamu."

    "Kenapa Ibu punya foto saya?"

    "Itu nggak penting. Apa Nina sudah makan?"

    Aku mengangguk. "Tadi ada anak yang memberikan roti waktu saya duduk di pinggir air mancur."

    Aku kembali teringat Mama.

    "Apa Ibu bisa tolong bantu mencari Mama saya?" tanyaku kepada polisi itu. "Tadi Mama ada disini. Tapi nggak tahu sekarang kemana?"

    "Nina sekarang ikut Tante dulu, ya? Nina harus mandi dulu. Setelah itu ganti baju. Nanti baru kita cari Mama," jawab Ibu polisi itu.

    Aku tidak tahu kenapa dia terlihat sedih.

    Aku berpikir Ibu polisi itu akan mengajakku masuk ke rumahku. Tapi dia malah membawaku masuk ke dalam mobil polisi dan menyuruh seorang bapak polisi yang duduk di balik setir untuk berangkat ke kantor.

    Aku tidak tahu akan dibawa ke kantor apa. Jadi aku bertanya pada ibu polisi itu.

    "Kita akan ke kantor Tante. Ada baju bagus yang pasti cocok buat kamu disana," jawab Ibu polisi.

    "Mama gimana?"

    "Mama Nina ikut naik di mobil itu."

    Ibu polisi itu menunjuk ke mobil jenazah yang melaju melewati mobil polisi yang membawaku.

    TAMAT

    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.