Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Jurang Diantara Kita

    Aku masih mengikuti langkah Fani yang begitu bersemangat. Kalau mau jujur, aku sebenarnya sudah sangat lelah. Aku ingin beristirahat. Aku ingin duduk dan meminum sesuatu yang dingin. Sejak tadi aku sudah memberikan kode pada Fani bahwa aku sudah kelelahan. Akan tetapi, sepertinya cewek berambut panjang itu nggak mengerti kodeku.

    "Yang ini bagus nggak, Han?" tanya Fani sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah celana jeans berwarna biru tua.

    source: skinnie40.tumblr.com

    Aku mengangguk. "Iya, bagus kok," jawabku.

    "Kamu kok nggak semangat gitu, sih?"

    "Aku capek, Fan."

    "Baru segini aja udah capek. Coba kalo mondar mandir di toko buku, sejam juga kamu nggak bakal capek."

    Aku tersenyum. Memang begitulah keadaannya. "Itu kan lain lagi ceritanya."

    "Nanti kamu beli satu kaos bergambar Mickey Mouse, ya?!"

    Mataku langsung terbelalak. Sebelum berangkat ke butik ini, Fani nggak mengatakan sepatah kata pun soal aku yang harus membeli sebuah kaos bergambar kartun favorit cewek itu. Lagipula, Mickey Mouse kan kesukaan Fani, jadi kenapa aku juga harus ikut memiliki kaos semacam itu?

    "Aku nggak mau beli baju lagi, Fan," ucapku sambil mengelus sepotong baju berpotongan rendah di bagian dada. "Koleksi bajuku udah cukup banyak."

    "Yang banyak itu koleksi buku kamu, Han!"

    Aku tahu koleksi bukuku sudah melebihi standar. Bahkan rak buku yang terdapat di dalam kamarku sudah nggak sanggup memuat seluruh buku yang aku miliki. Tapi sumpah, aku sangat suka membaca dan aku nggak merasa ada yang salah dengan hal itu.

    "Aku suka baca buku jadi kayaknya wajar aja deh," ujarku santai.

    Fani yang nggak bisa menerima ucapanku langsung meletakkan begitu saja baju berkerah yang di pegangnya. Aku bahkan sampai takut baju itu bakal rusak. Bagaimana kalo pemilik butik ini menyuruh kami ganti rugi? Aku sempat melirik label harga baju itu dan angka yang tertera disana membuatku sesak napas.

    "Sebagai seorang cewek SMA yang sebentar lagi akan kuliah, kamu harus memikirkan soal baju yang kamu kenakan," kata Fani penuh semangat.

    Aku tahu aku harus cepat-cepat menyingkir bila dia sudah mulai berpidato. Menurut pengalaman, nggak satu pun pidatonya itu cocok dengan prinsip hidup aku.

    "Aku laper. Gimana kalo kita cari makan?" usulku spontan.

    Fani langsung cemberut. Tapi mungkin karena perutnya juga lapar, dia menyetujui usulku itu. Selamatlah aku.

    *****

    Aku sedang asyik rebahan sambil membaca novel karya Akiyoshi Rikako saat Mama tiba-tiba masuk ke kamarku. Ketika itu aku hanya berpikir mungkin Mama ingin meminjam alat tulisku atau apa. Tapi saat dia duduk di pinggir tempat tidurku sambil menepuk punggungku, aku tahu Mama ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat serius.

    "Kenapa, Ma?" tanyaku.

    Mama tersenyum. "Nanti Mama kasih uang, ya. Kamu jalan lagi sama Fani trus beli beberapa potong pakaian."

    Aku kaget dan segera duduk di samping ibuku. Ada apa dengan Mama hari ini?

    "Buat apa, Ma?" tanyaku kebingungan. Nggak biasanya Mama seperti ini.

    "Sebentar lagi kan kamu bakal masuk universitas, jadi Mama cuma mau ngeliat kamu ada perubahan sedikit. Masuk universitas itu nggak sama dengan di SMA, Hani..."

    "Apa bedanya, Ma? Aku toh tetap akan belajar dan bukannya fashion show."

    "Iya, Mama tahu itu. Tapi orang-orang yang bakal kamu temui di universitas pasti nggak akan sama dengan di SMA. Bisa jadi mereka nggak bisa menerima gaya kamu dan yah, mengatakan hal buruk ke kamu. Mama cuma nggak mau kamu tertekan."

    "Nggak akan terjadi apa-apa kok, Ma," ucapku mencoba menenangkan Mama. "Aku akan baik-baik aja. Lagian aku heran kok Mama tiba-tiba memusingkan hal kayak begini?"

    "Tadi Tante Hera sempat ngobrol ke Mama soal acara kamu yang jalan bareng Fani ke butik..."

    Aku tahu lanjutan cerita Mama. Tante Hera adalah ibunya Fani. Dan Fani dengan ibunya adalah dua orang yang sangat cocok. Mereka punya gaya dan selera yang sama. Nggak ketinggalan, mereka juga suka membuat sebuah cerita menjadi sangat menarik sekaligus memprihatinkan di telinga orang lain.

    "Sudahlah, Ma," selaku. "Nggak usah musingin omongan Tante Hera. Aku janji, aku akan baik-baik aja."

    Mama mengangguk lesu dan akhirnya beranjak keluar dari kamarku.

    Ini sudah keterlaluan. Sebelumnya Mama nggak pernah sampai bersikap seperti itu kepadaku. Mama selalu membebaskan aku melakukan apapun yang aku mau selama itu membuatku senang dan nyaman.

    Kali ini Fani sudah nggak bisa dibiarkan lagi. Dia harus bisa memposisikan dirinya sebagai teman yang baik.

    Aku sudah berteman dengan cewek itu sejak duduk di bangku sekolah dasar. Selama masa pertemanan kami, aku sadar bahwa aku sudah mengalah cukup banyak darinya. Fani selalu mendapatkan apapun yang dia mau.

    Saat dia ingin menjodohkan aku dengan Ryan, dia mendapatkannya. Meski pada akhirnya hubungan aku dengan Ryan hanya bertahan dua bulan. Karena sumpah, berpura-pura bahwa kamu senang dengan hidup yang kamu jalani padahal sebenarnya nggak, itu susah sekali.

    Aku hanya ingin mendapatkan ketenangan membaca buku yang aku suka. Hanya itu. Nggak lebih. Aku nggak perlu baju bagus atau pun cowok keren di sisiku.

    Fani harus diberi pengertian.

    *****

    Suasana kelas XII IPS 1 pagi itu sangat tenang. Pak Sugi yang sedang duduk di meja guru menjelaskan tentang majas personifikasi dengan khidmat. Aku pun mencoba mencerna setiap penjelasan Pak Sugi dengan baik. Akan tetapi, karena aku nggak sarapan sebelum berangkat sekolah, konsentrasiku sering terpecah oleh gemuruh dalam perutku.

    Alhasil, aku berdoa kuat-kuat agar bel istirahat pertama segera berdering. Rasanya baru berbulan-bulan ketika akhirnya bel berbunyi dan aku bisa membereskan buku pelajaranku. Priska teman sebangku-ku rupanya juga merasakan penderitaan yang sama karena belum selesai merapikan buku, dia sudah menarik tanganku, mengajakku bergegas ke kantin.

    "Aku belum makan," ujarnya sambil berjalan terburu-buru. Aku yang ditariknya juga harus menyesuaikan diri. "Laper banget!"

    "Aku juga belum sarapan," kataku. "Makanya tadi pas pelajaran Pak Sugi aku nggak bisa konsen."

    Sesampainya di kantin, kami disambut oleh suara riuh teman-teman kami yang sepertinya juga lupa sarapan. Untuk mendapatkan sebungkus nasi kuning, aku dan Priska mengantri hampir lima menit lamanya. Belum lagi kami harus berjalan kembali ke dalam kelas untuk menikmati makanan itu disana.

    "Akhirnya bisa makan juga," ucap Priska lega. "Selamat makan!"

    Aku pun segera melakukan hal yang sama, membuka nasi yang aku beli dan mulai menikmatinya.

    Makananku belum habis setengahnya ketika Fani tiba-tiba sudah duduk di hadapanku.

    "Kamu nggak sarapan, ya?" tanyanya.

    "Lupa," jawabku dengan mulut penuh mie goreng.

    "Kalo kamu sampai lupa sarapan, bisa-bisa kamu cepat gendut."

    "Nggak masalah. Besok pas pelajaran olahraga lemaknya juga dibakar habis."

    "Bener banget, tuh," Priska menimpali ucapanku.

    "Tapi olahraga cuma seminggu sekali. Nggak akan ada gunanya," kata Fani mencoba menyanggah argumenku dan Priska.

    Sejak kedatangan cewek itu sebenarnya aku sudah nggak nyaman. Fani nggak pernah suka pada Priska karena menurutnya teman dudukku itu terlalu cuek.

    Tapi aku punya pendapat yang berbeda. Priska bukannya cuek. Dia hanya melakukan apa yang ingin dia lakukan layaknya aku. Berbeda dengan Fani yang selalu ingin melakukan apapun yang orang lain sedang ramai-ramainya lakukan. Aku yakin followers Fani di Instagram sudah mencapai angka ribuan. Beda denganku yang masih bisa dihitung dengan jari. Dan ngomong-ngomong, aku bahkan belum mengecek Instagram-ku sejak seminggu yang lalu.

    "Nanti sore kamu mau ikut ke butik lagi, nggak?" tanya Fani kepadaku.

    Ke butik lagi? Apa dia nggak bosan?

    "Bukannya dua hari yang lalu kamu udah ke butik?" tanyaku dengan polosnya.

    "Iya, tapi sekarang aku ke butik mau nyari baju buat ultahnya Rio."

    Rio adalah teman sekelas Fani. Mereka sama-sama ada di kelas IPA. Dulu saat penjurusan, Fani sempat memaksaku masuk kelas IPA. Tapi untuk yang ini bisa aku tolak dengan tegas. Aku nggak kuat harus ketemu sama mata pelajaran kimia.

    "Memangnya ke ultah Rio harus pake baju kayak apa, sih?" tanya Priska.

    "Baju yang enak dipandang mata, Pris," jawab Fani ketus.

    "Aku nggak mau ikut, ah," kataku sambil melipat bungkus nasi kuning-ku.

    "Kenapa?" Fani terlihat nggak suka. "Bukannya Mama kamu mau kamu beli baju buat persiapan kuliah?"

    "Yang itu bisa diurus nanti. Entar sore aku  mau ke rumah Priska bikin tugas bahasa Indonesia."

    Aku kesal karena Fani berani-beraninya membawa-bawa nama ibuku dalam percakapan kami. Kalau Fani ingin agar aku berubah menjadi seperti dirinya, dia nggak akan pernah berhasil.

    Sejak masuk SMA dia memang banyak berubah. Dia menjadi cewek yang cukup populer setelah ikut ekskul teater. Tapi apa pantas dia kemudian mau mengubahku menjadi seperti dirinya?

    Aku pun juga punya keinginanku sendiri dan Fani seharusnya menghormati itu. Ibaratnya kami berada di jurang yang berseberangan dan nggak ada jembatan yang menghubungkan kedua jurang tersebut.

    Bukankah terlihat kejam bila Fani kemudian memaksaku menyeberang ke tempatnya berada?

    Untuk memenangkan keinginannya, Fani bahkan harus memastikan bahwa aku nggak berbohong.

    "Beneran kalian mau bikin tugas, Pris?" tanyanya pada teman sebangku-ku.

    Priska mengangguk karena memang begitulah kenyataannya. Memang ada banyak tugas bahasa Indonesia yang harus kami selesaikan.

    "Kamu nggak percaya sama aku, Fani?" tanyaku dengan nada sedikit kesal.

    "Bukannya gitu Hani," jawab temanku sedari kecil itu. "Aku hanya mau kamu sedikit berubah. Apa kamu nggak bosan begini terus sejak SD?"

    Sejak SD aku memang sudah suka membaca buku. Fani juga sebenarnya begitu menyukai kegiatan membaca sejak SD. Tapi karena sekarang dia sudah populer, dia seperti menganggap kegiatan itu ketinggalan jaman.

    "Memangnya kenapa kalo aku begini terus? Aku nyaman-nyaman aja. Malahan aku nggak nyaman kalo harus ngikutin gaya kamu."

    Priska menyadari jika ada ketegangan dalam suaraku. Dia menyikut lenganku agar aku bersikap biasa saja. Tapi aku sudah capek menghadapi Fani.

    "Aku cuma pengen melakukan apa yang aku suka, Fan. Aku nggak pernah maksa kamu buat ngelakuin apa yang aku suka jadi aku harap kamu juga begitu ke aku."

    "Kamu nyalahin aku dan nganggep aku sok ngatur, gitu?" Nada suara Fani meninggi. Beberapa teman sekelasku yang juga menikmati makanan di dalam kelas langsung menghentikan kegiatan mereka.

    "Aku nggak nyalahin kamu. Aku cuma mau kamu ngerti," ucapku. "Itu aja. Nggak ada yang lain."

    "Oke," Fani segera berdiri. "Aku minta maaf kalo selama ini udah ganggu hidup kamu. Dan kamu tenang aja, aku nggak bakal ganggu hidup kamu lagi, kok."

    Fani segera melesat keluar kelasku. Dia marah. Sudah pasti. Tapi aku nggak terlalu ambil pusing.

    "Wah, kalian jadi musuhan, nih," ucap Rina salah satu teman sekelasku.

    Aku tersenyum. "Nggak masalah, Rin."

    Memang nggak masalah. Yang terpenting buatku adalah bagaimana aku tetap menjadi diriku sendiri. Aku bisa melewati apapun tantangan dalam hidupku asalku aku mendapatkan kemerdekaan untuk tetap melakukan apapun yang aku mau.

    Kehilangan seorang Fani masih bisa aku hadapi. Tapi jika aku kehilangan diriku, aku nggak akan pernah bisa melakukan apapun lagi dengan benar.

    TAMAT

    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.