Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Young and Beautiful (1)

    Cerpen: Young and Beautiful (1) ditulis oleh: Meylani.Aryanti. Estimasi waktu baca artikel ini adalah: Berdasarkan kecepatan baca rata-rata 265 kata/menit. Selamat Membaca..

    Aku membelalakkan mataku ketika melihat buku catatan bergambar The Avengers. Aku bukan penggemar film itu dan merupakan kesalahan besar bila aku sampai membeli buku tulis bergambar karakter film itu.

    Dengan hati-hati aku memasukkan kembali buku itu ke dalam tasku. Hanya ada satu penjelasan untuk keanehan ini: buku catatan itu milik Loren. Kemarin aku pergi ke rumah cowok itu untuk membantunya belajar Bahasa Inggris. Pasti aku salah memasukkan buku itu saat buru-buru pulang.

    source: pinterest

    Niki yang duduk di bangku di sebelahku sepertinya nggak menyadari ada yang aneh pada sikapku. Dia masih sibuk menggeser-geser layar handphone miliknya. Dia terlalu asik dengan kegiatannya menguntit Instagram Mikhaela.

    "Mikha bikin postingan apa?" tanyaku.

    Tanpa menoleh ke arahku, Niki menjawab dengan santai kalau Mikhaela saat ini sedang menjadi bintang iklan pakaian renang. Aku kembali membelalakkan mataku. Mikhaela? Pakaian renang? Dia kan baru 16 tahun!

    "Memangnya boleh ya, anak di bawah umur jadi bintang iklan pakaian renang?" tanyaku lagi.

    "Kayaknya boleh-boleh aja, Ra. Toh, pakaian renang ini memang ditujukan untuk remaja seumuran kita."

    Aku mengangguk-anggukkan kepala. Meskipun aku tahu Niki nggak akan melihat sikapku itu.

    "Kamu bikin artikel apa buat tugas bahasa Inggris?" Niki meletakkan handphone-nya ke dalam tas dan memandangi-ku.

    Aku merasa sedikit kaget ketika Niki berpaling kepadaku. Tiba-tiba saja aku merasa Niki sudah tahu soal buku catatan itu.

    "Kamu kenapa?" tanya Niki lagi.

    Aku gelagapan. Otakku berusaha mencari-cari alasan untuk kegugupanku.

    "Nggak ada. Cuma merasa sedikit takut aja artikelku itu nggak bakal bisa diterima sama Miss Ayu."

    "Nggak mungkinlah. Kamu pasti dapat nilai paling bagus!"

    "Bulan lalu nilaiku jelek. Kata Miss Ayu aku terlalu memaksakan menulis soal pencemaran sungai itu."

    "Tapi tata bahasa kamu bener semua. Jadi nggak usah khawatir gitu."

    Pelajaran pertama hari ini adalah matematika. Pak Dodi sejak tadi belum muncul juga. Aku bukan penggemar mata pelajaran itu jadi ada sedikit rasa senang guruku itu belum muncul juga.

    Memilih jurusan IPA bukanlah keinginanku. Ayahku-lah yang ingin agar aku mengambil jurusan ini.

    "Kalau kamu milih IPA, maka pas kuliah kamu akan lebih gampang memilih jurusan apa saja."

    Begitulah kata ayah saat aku mendaftar ke sekolah menengah atas.

    Niki kemudian beranjak pergi untuk bergabung dengan beberapa teman cewek yang duduk di pojok belakang kelas. Bisa jadi ingin mengkonfirmasi berbagai berita tentang Mikhaela yang beredar belakangan ini.

    Mikha itu cewek paling populer di SMA 18 Denpasar. Dia itu blasteran Jerman jadi bisa dibayangkan sendiri bagaimana sosoknya. Mikha sangat tinggi dengan postur tubuh yang pas. Hidungnya juga sangat mancung dengan bibir penuh yang sangat menggoda. Meski masih duduk di kelas X, ketenarannya sudah mengalahkan cewek-cewek yang duduk di kelas XI. Intinya, dialah bintang utama di sekolah ini.

    Coba bandingkan dengan diriku yang sangat menyedihkan. Aku kelebihan berat badan dengan pipi yang sangat tembam. Aku sudah melakukan berbagai cara agar pipiku ini mengempes. Mulai dari melakukan olahraga aneh-aneh yang aku temukan di Youtube, sampai yang terbaru memanjangkan rambut agar perhatian semua orang tertuju pada rambutku.

    Yang kalau mau jujur, rambutku juga nggak begitu menarik.

    Aku kembali teringat buku catatan itu. Dengan cepat sebuah ide terlintas di kepalaku. Melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, besar kemungkinan Pak Dodi nggak akan datang. Dan aku bisa keluar kelas untuk mengembalikan buku catatan milik Loren.

    Aku mengirimi cowok itu pesan WhatsApp.

    Aku: Buku catatan kamu ada di aku. Bisa ketemu?

    Pesan itu langsung terkirim bahkan sudah bertanda centang biru. Tapi setelah menunggu beberapa saat, nggak ada balasan apapun. Loren masih online tapi dia nggak segera membalas pesanku.

    Baiklah. Terserah dia. Toh, aku nggak akan rugi apa-apa. Dialah yang akan dapat masalah besar.

    Loren sendiri masih tergolong anak baru. Dia baru berada di sekolah ini sekitar satu Minggu. Cowok itu adalah anak pindahan dari sebuah sekolah negeri di Jakarta. Meski begitu, dia sama seperti Mikhaela. Popularitasnya langsung meroket saat dia menginjakkan kakinya di sekolah ini.

    Loren itu anak teman lama ayahku saat ayah masih bekerja di sebuah bank swasta di Jakarta. Ibu Loren adalah aktris kenamaan yang tenar sekitar tahun 90an. Dia mewarisi kharisma ibunya yang dapat menarik banyak perhatian.

    Padahal Loren bukan blasteran. Dia makhluk asli Nusantara. Dengan kulit gelap dan rambut ikal yang sangat khas. Wajahnya hampir menyerupai Nicolas Saputra dengan hidung yang lebih pesek.

    Dan seperti sebuah takdir dari langit, Loren dan Mikhaela langsung dijodohkan.

    Setelah menunggu hampir sekitar setengah jam (selama itu aku mendengarkan temab-temanku mengoceh tentang Loren dan Mikhaela yang katanya kencan di sebuah kafe di daerah Nusa Dua. Hei, kemarin malam kan Loren bersamaku mengerjakan tugas bahasa Inggris!), Loren akhirnya membalas pesanku.

    Loren: Kita ketemu di perpustakaan pas istirahat pertama.

    Aku kaget. Nggak mungkin bertemu dengannya di perpustakaan. Semua orang pasti akan langsung tahu hubungan kami. Oke, memang aku dan cowok itu nggak ada hubungan apapun. Hanya sebatas teman karena kedua orang tua kami berteman.

    Aku hanya nggak mau menjadi pusat perhatian karena ketahuan dekat dengan Loren. Anak-anak di sekolah ini bukannya akan memujiku. Aku yakin seratus persen mereka akan mencari kejelekanku. Dan kejelekanku sangatlah gampang untuk ditemukan.

    Aku: Apa nggak bisa ketemu di tempat lain?

    Loren dengan cepat membalas.

    Loren: Memangnya kamu mau ketemu dimana, Laura?

    Aku: Gimana kalo kita ketemu di gudang belakang sekolah?

    Loren: Bukannya tempat itu ada hantunya?

    Aku: Siapa yang bilang?

    Loren: Anak-anak.

    Aku: Pokoknya kita ketemu disana.

    Loren: Oke, Laura.

    Baiklah. Satu masalah sudah teratasi. Sekarang aku hanya harus memikirkan cara agar bisa pergi sendirian ke gudang belakang sekolah saat istirahat pertama nanti.

    *****

    Bel istirahat pertama sudah berdering. Niki dan yang lainnya sudah pergi ke kantin. Aku mengatakan pada sahabatku itu bahwa aku akan pergi ke perpustakaan untuk meminjam novel remaja yang sudah aku incar sejak seminggu yang lalu.

    Niki nggak akan curiga. Sebab dia tahu aku adalah tipikal anak yang selalu sarapan di rumah dan nggak pernah jajan di sekolah. Yah, beberapa kali dalam sepekan aku memang jajan tapi nggak sesering dia atau anak-anak lainnya.

    Buku catatan The Avengers sudah di tanganku. Gudang belakang sekolah tinggal beberapa langkah lagi sebab posisi ruang kelasku tepat berada di depan kelas XI IPA 3. Sedangkan, gudang belakang sekolah terletak di belakang kelas itu.

    "Laura, kamu mau kemana?" Sebuah suara membuat langkah kakiku berhenti. Itu suara Shandy. Cewek itu adalah teman baik Mikhaela. Sebuah pertanyaan langsung terlintas di kepalaku. Apa yang diinginkan Shandy dariku?

    Oke, aku dan Shandy adalah teman abadi sejak TK. Sebelum pindah ke rumahku yang sekarang, aku bahkan bertetangga dengannya. Shandy selalu baik padaku. Akan tetapi, sejak dia menjadi tangan kanan Mikhaela, aku meragukan setiap senyum yang diberikan cewek itu padaku.

    Aku selalu merasa dia ingin menyakitiku. Meski aku nggak pernah menemukan alasan kenapa dia ingin melakukan itu. Atau hanya aku saja yang nggak percaya diri.

    Shandy yang dahulu bertubuh gemuk sepertiku. Bahkan kegemukannya nggak bisa disandingkan denganku. Dia selalu menjadi yang tergemuk diantara kami.

    Hanya saja setelah liburan panjang kenaikan kelas IX SMP, dia berubah menjadi angsa cantik. Banyak yang bilang Shandy pergi ke Korea Selatan dan melakukan operasi sedot lemak serta operasi plastik. Sebab, selain lemak tubuhnya menghilang, hidungnya yang pesek juga berubah mancung.

    "Aku mau ke gudang belakang sekolah. Emangnya kenapa?" Aku menjawab pertanyaan Shandy kepadaku.

    "Oh," Shandy melipat kedua lengannya di dada. "Kamu tadi malam pergi kemana?"

    Nah, apakah sekarang dia membuntuti aku? Aku, Laura, si cewek yang kelebihan berat badan.

    "Nggak ada. Aku di rumah aja. Bikin tugas bahasa Inggris."

    Shandy tersenyum. "Masa sih? Soalnya aku kayak ngelihat motor kamu terparkir di salah satu rumah di Perumahan River Side."

    Loren tinggal di Perumahan River Side. Dan tadi malam aku memang berada di rumahnya. Tapi bagaimana Shandy bisa tahu?

    "Kamu salah lihat kali, Shan. Aku di rumah aja," kataku. Suaraku mulai bergetar. Tanda bahwa rasa gugup sudah memasuki jiwaku.

    "Oke deh," ujar Shandy seolah nggak peduli pada apapun. "Boleh aku ikut ke gudang belakang sekolah? Aku juga mau mencari sesuatu."

    Apa??? Shandy nggak boleh ikut denganku. Kalau sampai dia ikut, maka dia akan tahu kebenaran yang sudah susah payah aku tutupi.

    "Yuk, pergi bareng!" Shandy berjalan mendahuluiku.

    Dengan cepat tangannku merogoh handphone di kantong rokku. Dan segera mengetik pesan darurat pada Loren.

    Aku: RENCANA BERUBAH. SHANDY IKUT KE GUDANG. KAMU SEGERA PERGI DARISANA!!!

    Pesan terkirim dan tercentang biru. Aku melihat Loren sedang mengetik pesan balasan.

    Loren: Aku masih ke kelas. Ya udah, kita ketemu di perpustakaan aja.

    Aku: Oke.

    "Kamu mau ngapain ke gudang?" tanyaku pada Shandy.

    "Kamu sendiri mau ngapain?" Shandy malah balik bertanya padaku.

    "Tadinya mau nyari papan buat Mading tapi temenku udah ngirim pesan katanya papannya udah ketemu di ruang jurnalistik," jawabku dengan penuh kelegaan.

    Wajah Shandy berubah. Dia terlihat kesal dan sebelum aku mendapatkan amukan marahnya (kalau dia memang bisa mengamuk seperti angin topan), aku segera beranjak pergi.

    "Aku ke kelas dulu ya, Shan," kataku setengah berlari menjauh.

    *****

    Ruang perpustakaan seperti biasa kosong. Aku nggak tahu kenapa sangat sedikit teman-teman di sekolahku yang suka membaca. Padahal membaca itu punya berjuta-juta manfaat.

    Aku tadi lupa menanyakan pada Loren dia akan menungguku di bagian perpustakaan yang mana. Tapi aku rasa agak berlebihan bila aku sampai bertanya sedetail itu.

    Ini hanya ruang perpustakaan. Aku bisa berputar beberapa kali untuk menemukan cowok itu. Hitung-hitung sebagai tambahan aktivitas membakar lemak nggak berguna.

    Aku menemukan Loren di rak yang memajang buku-buku tentang arsitektur. Buat apa coba dia membolak-balik buku arsitektur? Dia mau jadi arsitek? Nilainya saja banyak yang jebol, bagaimana dia bisa lulus ujian masuk universitas?

    "Kamu lama sekali!" ucap Loren dengan suara direndahkan.

    Aku nggak menyangka cowok dengan antusiasme nol terhadap kegiatan belajar bisa tahu aturan dasar perpustakaan.

    "Melakukan pengalihan biar nggak diikuti wartawan," jawabku.

    "Kamu ngapain lihat buku arsitektur?" kataku lagi.

    "Emangnya kenapa? Nggak boleh?"

    "Bukannya gitu. Kamu kan kayaknya nggak tertarik sama sekolah. Kok bisa tertarik sama buku?"

    Loren tersenyum dan meletakkan buku yang sejak tadi dipegangnya.

    "Siapa yang bilang aku nggak tertarik sama sekolah?" ujar cowok itu sambil bersedekap. Matanya yang bagaikan elang seolah-olah menusuk ke dalam jiwaku yang rapuh.

    Ya Tuhan! Kenapa aku bisa berpikir begitu???

    "Sudahlah. Ini buku catatan kamu!" Aku mengulurkan tanganku yang memegang buku milik cowok itu.

    Loren akan mengambilnya. Tapi entah bagaimana, entah darimana, entah kenapa, kemunculan sebuah suara membuat tanganku lemas.

    "Kalian ngapain disini?"

    Aku dan Loren kompak berpaling ke arah suara itu. Hidung yang sangat mancung itu segera memenuhi pandanganku.

    Terimakasih telah membaca Cerpen: Young and Beautiful (1), jangan lupa tinggalkan reaksi & komentar kalian di bawah ini. Jika kalian suka dengan artikel ini, support penulis dengan cara share artikel ini ke sosmed kalian 😊
    Meylani.Aryanti

    5 komentar:

    1. Wkwwk.. bibirnya mikhaela penuh, sangat menggoda hehe.. kenapa coba bilang sama Shandy ke gudang belakang sekolah.. Loren sama Laura cocok tuh.. mungkin di next episode Laura ada niatan diet mengikuti jejak shandy dan akhirnya mengalahkan kecantikan mikhaela? Kita tunggu kelanjutannya ������

      BalasHapus
      Balasan
      1. Hahahaha... Doakan ya semoga bisa dpt inspirasi buat nulis lanjutan nya dlm waktu dekat 😁

        Hapus
    2. Emotku jadi tanda tanya semua...��

      BalasHapus
    3. Wah merasa terbawa kembali kemasa SMU 😁 Kelas IX SMP heheee

      BalasHapus
      Balasan
      1. Cerita pas masa SMA atau SMP memang nggak bakal pernah terlupakan. Masa emas dlm hidup 😁😁

        Hapus

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.