Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Untuk Sahabat

    Cerpen: Untuk Sahabat - Aku memperhatikan wajah Reina yang mulai menegang. Teman dudukku ini selalu menunjukkan wajah tegangnya itu bila anak-anak kelas X.3 pulang mendahului waktu yang seharusnya. Awalnya aku nggak bisa menebak alasan perubahan emosinya itu. Baru sejak seminggu yang lalu aku tahu kenapa.

    Reina naksir sama Davian. Iya, Davian yang anak kelas X.3 itu. Davian yang rambutnya dipotong acak-acakan. Davian yang suka naik motor Vespa tua yang kemungkinan besar milik kakeknya itu. Iya, Davian yang itu.

    Cerpen: Untuk Sahabat
    source: pinterest
                         

    Aku nggak tahu apa yang menarik dari cowok itu sehingga membuat Reina sampai kaku begitu. Tapi sudahlah. Itu toh pilihan sahabatku. Aku akan membantu sebisaku.

    Hanya... Masalahnya... Reina nggak mau terbuka kepadaku soal apa yang dia rasakan pada Davian. Setiap kali aku mencoba mengarahkan topik pembicaraan ke arah cowok Vespa itu, Reina selalu berusaha mengalihkan pembicaraan. Bahkan terkadang topik pembicaraan yang dia pilih nggak sesuai dengan seleranya.

    Davian terlihat berjalan di depan kelasku. Dia sangat cuek. Matanya fokus ke depan dan bahkan dia betah jalan sendirian begitu. Kalau aku, aku selalu memilih berjalan bergerombol agar terhindar dari pusat perhatian saat sampai di depan Gedung A yang dihuni oleh anak-anak kelas XII.

    Aku memiringkan kepala saat sosok Davian hampir lenyap dari pandangan. Saat itulah aku melihat pemandangan yang sepertinya menjadi petunjuk bahwa perjuangan Reina akan sangat berat untuk mendapatkan si cowok Vespa.

    Tika, yang duduk di deretan bangku di sampingku dan Reina, juga memberikan perhatian yang sama pada Davian. Bahkan setelah bayangan cowok itu menghilang, Tika dan teman duduknya, Nia, mulai berbisik-bisik (dengan suara keras sekali) soal rencana sore nanti untuk menonton pertandingan basket yang akan diikuti oleh tim basket SMA 12 Denpasar.

    Dan yang aku tahu, Davian adalah pemain utama tim basket sekolah kami. Aku harus melakukan sesuatu.

    "Rei, gimana kalo sore nanti kita ke GOR Ngurah Rai?" tanyaku. Sahabatku yang sudah kembali berkonsentrasi ke tugas mencatat materi tentang masuknya VOC ke Indonesia, mengangkat wajahnya.

    Jadi dia nggak tahu soal pertandingan itu rupanya.

    "Buat apa? Kamu mau olahraga?" Reina malah berbalik menanyaiku.

    "Nggak. Buat apa kesana kalo cuma mau olahraga! Lebih asik olahraga di jogging track pinggir sawah di depan rumahku," kataku. "Aku mau nonton basket!"

    "Sejak kapan kamu suka basket?"

    "Sejak tadi. Pokoknya kamu temenin aku. Jangan nolak. Nanti aku kasih kamu kejutan."

    "Kejutan apa?"

    Aku mengatakan pada Reina bahwa sebuah kejutan tidak akan ada artinya bila aku beritahu dia sekarang. Masa sih, dia nggak ngerti?!!

    "Udah. Cepetan dicatet lagi. Nanti Bu Eni marah kalo tugasnya belum selesai sebelum bel bunyi."

    Dengan patuh, Reina yang sepertinya berniat mengajukan pertanyaan lagi, melanjutkan tugas sejarah dari Bu Eni.

    *****

    Aku bukannya sudah bertahun-tahun bersahabat dengan Reina. Nggak. Sebelumnya aku adalah anggota gerombolan cewek-cewek populer di SMA 12 Denpasar ini. Gerombolan itu terdiri dari cewek-cewek yang menganggap diri mereka cantik dan dapat menarik perhatian cowok manapun yang melihat mereka.

    Yeps dan ketua gerombolan itu adalah Tika!

    Tapi sejak terjadi kasus video pengeroyokan itu, aku memutuskan untuk keluar dari gerombolan itu. Sebenarnya cewek-cewek itu mempunyai nama untuk kelompok mereka: The Sisters.

    Nama yang sangat norak. Nggak autentik dan jelas sekali nggak kreatif. Aku sangat malu mengakui bahwa aku pernah menjadi bagian dari The Sisters.

    Awal cerita beredarnya video pengeroyokan itu memang nggak jelas. Aku sendiri nggak ada dalam video itu. Bahkan bayangan dan suaraku saja nggak terdengar. Akan tetapi sialnya, banyak orang yang percaya bahwa akulah yang merekam video itu dan kemudian mengedarkannya.

    Aku berani sumpah, aku nggak akan melakukan hal serendah dan sejahat itu hanya untuk popularitas. Oke, aku memang suka menggaet cowok yang menurutku ganteng. Dan oke, aku memang suka berdandan berlebihan bahkan untuk ke sekolah sekalipun.

    Tapi merekam dan mengedarkan video kekerasan? Nope. Aku nggak akan pernah berbuat begitu. Apalagi menjadi pencetus perbuatan jahat itu.

    Rumor jahat bahwa akulah yang merekam dan mengedarkan video itu berubah menjadi rumor bahwa akulah yang memprovokasi teman-temanku sesama anggota The Sisters untuk menyiksa cewek malang dari kelas X.5 itu. Sungguh bukan aku!

    Meski sekolah telah melakukan penyelidikan (yang tentu saja melibatkan polisi di dalamnya) dan menemukan siapa pelaku yang sebenarnya, aku tetap menjadi sasaran empuk anak-anak satu sekolahan. Selama hampir sebulan penuh mereka menghindariku.

    Dan kemudian datang anak baru pindahan dari sekolah lain. Sejak awal si anak pindahan ini sudah dibombardir dengan berita miring soal diriku. Aku tahu itu karena sering melihat Tika mengatakan semua kebohongan yang sudah dia susun dengan baik pada si anak baru.

    Tapi ajaibnya, si anak baru sepertinya tidak mempan dengan semua omongan Tika. Suatu hari, si anak baru yang sudah duduk nyaman sendirian di meja tepat di belakang Tika, memutuskan untuk pindah satu meja denganku.

    Itulah Reina. Dia bilang padaku bahwa dia memerlukan seorang teman untuk diajak berdiskusi tentang pelajaran sekolah dan tentang apa saja yang mengganggu pikirannya.

    "Aku pikir kamu orang yang tepat untuk itu, Sarah," ucap Reina padaku saat hari bersejarah itu.

    Sejak saat itulah tembok kesengsaraan yang selama sebulan membentengiku runtuh. Hidupku kembali normal.

    *****

    GOR Ngurah Rai sudah sesak oleh para siswa-siswi dari beberapa sekolah di kota Denpasar yang timnya bertanding hari ini.

    Aku bukan orang yang suka keramaian. Tapi untuk sahabatku, aku memaksakan diriku untuk menikmati suasana hiruk pikuk ini.

    Reina sepertinya juga tidak bisa menikmati situasi ini. Sejak tadi setelah kami sampai disini, dia sudah terlihat nggak nyaman. Di tempat duduknya dia selalu gelisah, melihat kesana kemari.

    Saat pandangan mata Reina tertumbuk pada sosok Davian yang sedang bersiap-siap di pinggir lapangan, dia kembali bertambah gelisah.

    Aku memegang pundaknya. "Kamu nggak tahu ya, hari ini sekolah kita yang bertanding?" tanyaku.

    Reina memalingkan wajahnya ke arahku. "Aku nggak tahu," jawabnya. "Aku kira kamu cuma mau nonton aja. Aku nggak tahu kalo kamu mau ngasih dukungan buat tim sekolah kita."

    "Aku kira kamu sudah tahu. Lain kali kamu harus lebih memperhatikan jadwalnya Davian."

    Reina menyipitkan matanya. Mulutnya mulai membuka untuk mengajukan pertanyaan padaku. Tapi segera aku hentikan.

    "Udah deh. Aku tahu kok apa yang lagi kamu rasain. Aku ngerti. Tenang aja. Nanti aku bantu deh."

    Kali ini mata Reina membelalak. Dia terlihat panik dan seperti hendak akan membantah ucapanku. Tetapi niatnya itu dihentikan oleh pengumuman akan dimulainya pertandingan.

    Basket bukanlah favoritku. Dan bahkan sebenarnya, nggak ada satu pun pertandingan olahraga yang menjadi favoritku. Duduk di kursi GOR ini bagaikan duduk di atas kursi besi yang sudah dipanaskan.

    Aku berusaha mengikuti ritme yang mengalir di dalam gedung ini. Saat teman-teman sekolahku bersorak, aku juga ikut bersorak. Aku nggak mengerti apa yang membuat mereka berteriak seperti itu. Tapi sudahlah.

    Melihat wajah Reina yang memerah serta semangatnya yang menggebu-gebu, aku sudah merasa senang.

    Tetapi kesenangan yang aku rasakan ini nggak berlangsung lama. Mataku melihat sosok Tika dan gerombolannya berjejer tidak jauh dari kami dengan mengenakan pakaian yang minim banget. Buat apa coba mereka ke GOR dengan baju begitu? Jelas banget mereka cuma mau nyari perhatian!

    Ketika pertandingan dinyatakan berakhir dan SMA 12 dinyatakan sebagai pemenang, aku bergegas menarik tangan Reina untuk mengajaknya ke suatu tempat. Aku nggak mau Reina harus bertabrakan dengan Tika dan gengnya. Dan aku nggak mau membuat Reina menjadi saksi dari rencana apapun yang akan dilaksanakan oleh Tika.

    "Kita mau kemana?" tanya Reina. "Bukannya tadi kita parkir di sebelah sana?" Reina menunjukkan ke arah utara GOR.

    Dia terlihat sedikit ngeri ketika aku mengajaknya berjalan melintasi pohon beringin besar. Pohon itu memang sudah ada di bagian luar GOR sejak dahulu dan aku nggak pernah mendengar berita horor apapun tentang pohon itu.

    "Aku kan udah bilang mau ngasih kamu kejutan," kataku pada Reina. "Nah, sekarang aku mau bawa kamu ke kejutan itu."

    "Oke. Tapi aku kok jadi gugup ya?!"

    Aku dan Reina akhirnya sampai di tempat yang dituju. Tempat ini memang tersembunyi tapi menurut Rio, yang sudah berteman dengan Davian sejak SD, tempat ini adalah favorit si cowok Vespa kalau sudah selesai bertanding.

    Reina secara alami langsung membeku begitu melihat Davian yang sedang duduk santai di teras sebuah bangunan terbengkalai. Dia sedang menikmati semangkuk bakso bersama beberapa orang temannya. Tubuh mereka masih penuh keringat dan keletihan terlihat jelas di wajah mereka.

    "Rio, kita jadi kan wawancara untuk blog sekolah?" tanyaku pada Rio begitu sampai di depan bangunan itu.

    Rio segera meletakkan mangkuk baksonya dan segera menyiapkan diri. Sementara Reina, aku sadari sudah membeku di sampingku.

    "Kalo aku kotor begini apa nggak apa-apa?" ucap Rio polos.

    "Nggak masalah. Cuma wawancara aja. Aku udah punya banyak foto kalian pas tanding tadi. Oh ya, kenalin ini Reina, partner-ku di blog sekolah."

    Reina segera mengulurkan tangannya pada Rio. Aksi ini menimbulkan reaksi berantai dan semua cowok yang duduk di teras itu juga mengulurkan tangan menjabat tangan Reina. Termasuk Davian.

    Bahkan pada akhirnya Davian berhenti dengan baksonya dan juga bergabung dalam percakapan.

    "Kamu juga wawancara aku kan, Sar?" tanyanya. "Aku juga main bagus tadi."

    "Pastinya!"

    Apa yang terjadi padaku setelah pengeroyokan itu adalah guru konseling memintaku untuk menulis seluruh prestasi yang sudah pernah dicapai sekolahku. Awalnya aku hanya menulis semua itu di laptop. Namun karena ingin menciptakan sesuatu yang berbeda, aku memutuskan untuk membuat sebuah blog dan mengunggah semua tulisanku disana. Ideku itu langsung mendapatkan persetujuan dari para guru dan bahkan kepala sekolah.

    Rio tahu itu termasuk Davian juga. Sebab sebelum mengenal Reina, aku sudah sangat akrab dengan kedua cowok itu.

    Saat akan memulai mewawancarai Rio, aku mendengar Davian membuka percakapan dengan Reina.

    "Kamu yang baru pindah itu kan?" tanya Davian. "Pindahan dari sekolah mana?"

    "Aku pindah dari SMA Nusantara," jawab Reina malu-malu.

    Baiklah. Setengah pekerjaanku sudah terlaksana. Menyelesaikan setengahnya lagi merupakan hal yang mudah.





    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.