Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Merindukanmu

    Nami sangat gembira menyambut liburan semester ini. Dia mengatakan padaku akan pergi mendaki Gunung Agung dan Gunung Batur. Dia juga berencana akan berkemah di pinggir Danau Buyan. Rencana yang luar biasa indah dan menantang. Setidaknya untuk Nami.

    Tapi aku benci liburan kali ini. Dan memang sejak setahun yang lalu, aku selalu benci bila libur panjang semester tiba.

    source: pinterest

    "Kamu ikut aja bareng aku, Jen!" ucap Nami bersemangat.

    Sudah ribuan kali aku katakan padanya bahwa aku tidak suka kegiatan di alam bebas. Aku lebih suka nongkrong di kamarku sambil membaca novel atau hanya sekedar berkhayal nggak jelas.

    "Aku nggak bisa, Nam," kataku serius. Aku merasa harus selalu serius bila berbicara dengan teman sebangku-ku ini. Masalahnya dia sering sekali mengabaikan apapun yang aku ucapkan. "Kamu kan tahu aku takut ular. Gimana kalo nanti pas kemah ada ular masuk ke tendaku? Aku yakin aku pasti langsung mati kena serangan jantung!"

    "Ya sudah kalo gitu. Diam saja di kamarmu sambil ngayalin Andra!" ucap Nami dengan suara yang keras. Saking kerasnya, aku sampai menolehkan kepalaku ke berbagai arah untuk memastikan tidak ada satu orang pun di tempat parkir ini yang mendengar perkataan sahabatku.

    Dan jujur saja, bukan hanya ucapan Nami yang membuat jantungku berdetak kencang. Tapi nama yang disebutkannya juga memberikan efek yang sama terhadap organ vitalku. Ya, dialah yang mengubahku menjadi siswi SMA yang benci liburan semester. Aku pertama kali bertemu Andra saat MOS dan sejak saat itu aku nggak pernah bisa berhenti memikirkannya.

    Sayangnya, keberuntungan atau apapun itu namanya, tidak pernah membawaku lebih dekat pada cowok itu.

    "Memang itu yang mau aku lakukan!" kataku menanggapi tuduhan (yang sangat benar) yang baru saja dilontarkan Nami.

    "Kira-kira Andra dapat nilai matematika berapa ya?" tanyaku kemudian. "Niko bilang dia pintar di mata pelajaran itu."

    Kami, para siswa dan siswi SMA Nusa Jaya, baru saja mendapatkan pembagian raport. Aku dan Nami yang duduk di kelas XI IPA 2 memperoleh nilai yang tidak terlalu mengecewakan. Aku hanya sedikit tersandung di mata pelajaran fisika.

    "Jen, kok kamu percaya aja sama omongan Niko. Si Bella aja bakal dia puji habis-habisan kalo kamu traktir dia bakso segunung!"

    Sewaktu bertanya soal Andra pada Niko beberapa bulan yang lalu, aku memang mentraktirnya bakso beranak di kantin sekolah. Tapi mana aku tahu itu akan membuatnya berucap bohong.

    "Sudah deh. Mendingan kita pulang aja sekarang. Aku udah lapar," teriak Nami. "Lagian aku udah bosen lihat suasana sekolah begini."

    "Ya ampun, Nam. Bulan depan juga kamu balik lagi ke sekolah."

    "Mumpung belum sekolah, aku mau menikmati kebebasan aku dulu. Sepuasnya. Kamu yakin nggak mau ikut aku berpetualang?"

    Aku segera naik ke atas motorku dan langsung mengendarainya pergi dari lapangan parkir sekolah. Berapa kali sih aku harus bilang padanya bahwa aku tidak menyukai kegiatan di alam terbuka? Apapun itu bentuknya!

    *****

    Jena Armina yang malang. Hanya kalimat itu yang bisa aku pikirkan untuk menggambarkan kondisiku saat ini. Liburan semester ganjil ini sudah berjalan empat hari dan aku masih belum melakukan kegiatan apapun yang akan berkesan seumur hidupku.

    Nami sudah pergi ke Gunung Agung kemarin dan baru akan kembali ke Denpasar dalam tiga hari. Buku yang aku pinjam di perpustakaan daerah dua hari yang lalu sudah hampir selesai aku baca. Tapi aku tahu, itu bukan cara yang tepat untuk menciptakan liburan yang berkesan.

    Aku ingin sesuatu yang... Entahlah. Sesuatu yang romantis... Sesuatu yang berhubungan dengan... Andra... Kemarin malam aku sempat melihat Instagram story cowok itu dan ternyata dia pergi menonton film bersama beberapa kawan baiknya. Aku bersyukur tidak ada manusia berjenis kelamin perempuan dalam rombongan itu.

    Tapi menguntit Andra lewat sosial medianya bukanlah hal baik untuk kondisi hatiku. Aku menjadi semakin merindukan Andra. Aku rindu melihatnya secara langsung. Cara berjalan Andra yang tegas bak prajurit membuatnya tambah terlihat keren di mataku.

    Oh, dan ngomong-ngomong soal mata, aku suka sekali melihat mata Andra yang mirip dengan mata Nicolas Saputra. Meski hidung Andra nggak sama mancungnya dengan hidung aktor ganteng itu, tapi dia tetap terlihat keren bagiku.

    Baiklah. Aku jadi kemana-mana. Ini artinya level rinduku sedang ada di puncak dan aku perlu melakukan sesuatu untuk sedikit menurunkannya.

    Suasana petang hari ini yang sangat romantis memunculkan sebuah ide di benakku. Aku ingin pergi ke gerai es krim favoritku untuk mendapatkan semangkuk es krim rasa stroberi yang lezat itu.

    Setelah berpamitan pada Mama yang sempat curiga padaku (aku berkata jujur pada Mama akan belanja es krim tapi Mama malah menuduhku yang macam-macam) aku mengendarai motorku dengan kecepatan rendah. Sumpah. Malam ini langit sangat bersih. Padahal bulan Desember begini biasanya selalu identik dengan mendung yang tidak berkesudahan.

    Ketika sampai di gerai es krim itu dan aku melihat antrian yang cukup panjang. Tapi tenang, cuaca yang sedang bagus membuat hatiku tidak gampang panas. Aku masuk ke dalam antrian itu dan mulai mendengarkan bisik-bisik apa saja yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengantri lebih dulu dariku.

    Entah karena sedang terbawa suasana atau apa, aku seperti mendengar suara Andra diantara deretan orang-orang itu. Mataku segera mencari sosok cowok itu. Beberapa saat setelah mencari kesana kemari, aku sadar suara yang aku dengar hanyalah ilusi belaka.

    Aku benci berada dalam situasi ini. Kalau saja sekolah masih berjalan, petang hari seperti ini akan aku habiskan membayangkan skema tentang apa saja yang akan aku lakukan bila tanpa sengaja berpapasan dengan Andra di tempat parkir atau dimana saja di areal lingkungan sekolah.

    Skema yang lebih sering hanya tinggal kenangan.

    Aku selalu bertanya-tanya, apa Andra pernah sekali saja memikirkan aku? Cewek yang sering memperhatikannya dengan penuh perasaan bila lewat di depan kelas XI IPA 2. Aku yakin sekali hanya aku yang melakukan itu. Teman-temanku yang lain lebih tertarik mengagumi Deva, yang atlet basket itu.

    Tapi coba pikirkan, bagaimana mungkin Andra bisa menyadari keberadaanku kalau menyapanya saja aku nggak pernah?

    Setelah sampai di depan konter pemesanan es krim, aku segera menyebutkan pesananku. Begitu makanan yang aku cari sudah ada di tanganku, aku langsung kabur menuju tempat parkir motor.

    Beginilah jadinya bila aku merindukan seseorang yang bahkan nggak menyadari keberadaanku.

    *****

    Hujan turun dengan sangat deras. Mungkin sudah satu jam aku berdiri di teras salah satu bangunan di Museum Bali.

    Aku memang sengaja pergi ke tempat ini hanya untuk sekedar mengisi hari Sabtu-ku yang sudah pasti akan kelabu. Sebelum hujan turun dengan derasnya, aku sudah mengambil banyak sekali foto benda-benda yang dipajang di tempat ini.

    Ada rencana yang ingin aku jalankan mulai Senin depan yaitu menulis di blog pribadiku tentang kegiatan harianku dan pendapatku tentang apa saja yang sedang terjadi di masyarakat. Aku berharap rencana itu bisa mengendalikan suasana hatiku yang kadang sangat melankolis.

    "Jena?" Sebuah suara membuatku hampir saja meloncat lalu berlari menembus hujan. Masalahnya, pikiran tidak warasku mengira patung yang ada di dalam ruang pameran (yang sedang menari itu) tiba-tiba hidup akibat suara petir yang tadi sempat menggelegar.

    Aku segera berbalik untuk memastikan pemilik suara tersebut.

    Seperti di dalam film animasi, seolah-olah ada daun-daun musim gugur yang berderai dari langit dan menjadi latar bagi sosok cowok yang berdiri dihadapanku.

    Andra.

    Andra ada di depanku dan sedang tersenyum sangat manis ke arahku. Dan tunggu. Dia tahu namaku? Ya, aku tidak salah dengar. Dia baru saja mengucapkan sebuah kata yang merupakan namaku.

    "Andra?" ucapku menahan rasa gugup yang mulai menjalar. "Kamu ngapain disini?"

    "Aku lagi jalan-jalan aja," jawab cowok itu. "Nggak nyangka banget bisa ketemu kamu. Kamu sendiri lagi ngapain disini?"

    Aku harus jawab apa? Apa harus aku bilang bahwa aku disini karena malam minggu yang kelabu itu? Betapa menyedihkannya! Aku harus menemukan jawaban yang akan membuatnya terkesan dan nggak bisa melupakan aku.

    Setelah berpikir beberapa detik akhirnya aku menjawab, "Aku sedang mengambil foto untuk postingan di blog-ku."

    Sumpah. Aku nggak bisa memikirkan hal lain yang kedengarannya keren dan cerdas.

    "Kamu punya blog?" Andra berkata dengan nada suara yang sangat antusias.

    "Iya. Sudah enam bulan berjalan. Tapi aku masih punya sedikit tulisan. Soalnya aku terlalu malas menulis kalo dari sekolah selalu dapat tugas segunung."

    Andra tertawa lepas. "Iya, kamu bener banget. Tugas sekolah emang bisa bikin kita nggak bisa menjalankan hobi. By the way, aku juga suka nge-blog!"

    Baiklah. Ini menarik.

    "Aku kira kamu cuma eksis di Instagram," kataku.

    "Kamu follow Instagram aku, ya, Jen?"

    Aku mengangguk. Aku adalah follower setia Andra sejak setahun yang lalu.

    "Aku kok nggak tahu, ya? Apa aku udah follback kamu, Jen?" tanya Andra.

    "Udah kok, ndra. Tenang aja. Aku nggak pake nama asli aku buat username. Tapi pake nama yang aku karang sendiri."

    "Oh ya? Apa? Aku kok sampe kelewatan?"

    "Aku nggak pernah posting apa-apa. Cuma buat seru-seruan aja karena semua temen pada punya Instagram."

    Andra segera mengeluarkan handphone-nya dan sekali lagi meminta username-ku.

    "@be.more.like.me," jawabku.

    Terjadi jeda beberapa detik ketika Andra mulai memeriksa keberadaan akun Instagram-ku. Pada detik yang sama, guntur sekali lagi menggelegar di angkasa. Suaranya yang memekakkan telinga itu tidak membuat Andra merasa terganggu. Dia tetap serius melihat akun-ku.

    "Syukur aku udah follback. Aku sempat ngira kamu nggak ada Instagram, loh, Jen. Aku pernah tanya ke temen sekelas kamu, Eva. Katanya dia nggak tahu Instagram kamu."

    Aku ingin sekali mencekik leher Eva. Padahal aku dan cewek itu sudah saling follow. Tapi kenapa coba dia jadi bodoh begitu?!!

    "Mungkin dia lupa," kataku akhirnya. Padahal seharusnya aku bilang bahwa Eva itu jahat banget.

    "Ya, biarin aja. Sekarang aku juga udah tahu. Oh ya, kalo blog kamu apa namanya?"

    Kami berdua kemudian bertukar nama blog dan melanjutkan obrolan tentang apa saja yang menjadi favorit kami masing-masing saat menulis. Aku suka sesuatu yang berbau fiksi sedangkan Andra suka sekali fotografi.

    Entah sudah berapa lama kami berdiri di teras gedung itu saat Andra menyadari bahwa hujan sudah hilang sama sekali.

    "Hujan udah reda, Jen. Gimana kalo kita cari makan? Aku sebenarnya udah kelaparan dari tadi," kata Andra yang diikuti tawa.

    "Boleh. Aku juga lapar,"

    Aku dan Andra mulai melangkah di atas rumput yang basah. Pikiranku kembali ke hari-hari dimana aku sering memperhatikan Andra yang lewat di depan kelasku. Aku ingat pada suatu momen, pernah ada pikiran tentang aku dan cowok itu yang jalan berdua sehabis hujan.

    Dan ajaibnya, itu benar-benar terjadi saat ini. Aku nggak sabar ingin bercerita pada Nami. Ohhhhhhh senangnyaaaa!!!!

    TAMAT

    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.