Ad

ad728
  • News

    Review Novel If I Stay

    Hellow you guys! Apakah kamu pernah membayangkan apa yang terjadi pada orang-orang yang mengalami koma? Apa kamu berpikir mereka hanya tertidur begitu saja dan memang benar-benar nggak bisa mendengar atau merasakan apapun? Atau apa kamu berpikir orang-orang yang sedang koma mengalami suatu kondisi dimana roh mereka ada di luar tubuh mereka dan menyaksikan semua kejadian di sekeliling mereka layaknya hantu?

    Well, daripada aku melantur nggak tentu arah, lebih baik aku to the point. Aku baru saja selesai membaca novel karya Gayle Forman yang berjudul If I Stay. Novel yang sudah difilmkan ini membuatku banyak berpikir dan merenung tentang arti kehidupanku saat ini. Daripada berlama-lama, lebih baik langsung simak review selengkapnya. 



    Judul: If I Stay
    Penulis: Gayle Forman
    Penerjemah: Poppy D. Chusfani
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Cetakan Ke: 9
    Tahun Terbit: 2017
    Tebal: 200 hlm
    ISBN: 978-602-03-1322-1
    Harga: Rp.50.000


    Mia memiliki segalanya: keluarga yang menyayanginya, kekasih yang memujanya, dan masa depan cerah penuh musik serta pilihan. Kemudian, dalam sekejap, semua itu terenggut darinya. Terjebak antara hidup dan mati, antara masa lalu yang indah dan masa depan yang tidak pasti, Mia mengahadapi satu hari penting ketika ia merenungkan satu-satunya keputusan yang masih dimilikinya - keputusan terpenting yang akan pernah dibuatnya. 

    Aku langsung menyukai Mia begitu mulai membaca novel ini. Mia adalah remaja tujuh belas tahun yang mengingatkan aku pada diriku sendiri semasa SMA dulu. Mia bukan cewek populer. Nilai-nilainya selalu standar dan dia nggak tergabung dalam kegiatan keren semacam pemandu sorak. Dia ikut kegiatan musik dan bukan pula musik populer melainkan musik klasik. Mia memainkan cello. 

    Aku juga agak tercengang dengan pengakuan Mia bahwa dia nggak pernah merasa klik dengan siapapun. Bahkan dengan keluarganya sendiri begitu pula dengan pacarnya, Adam. Tapi Mia bisa sangat akrab dan merasa sangat diterima bila itu berurusan dengan Kim, sahabatnya. Ini nggak berarti Mia punya keluarga yang berantakan. Keluarganya justru sangat harmonis dan hangat. Kedua orangtuanya berpikiran terbuka dan mendukung Mia menjalani kecintaannya bermain cello. 

    "Bukan. Dialah yang menentukan. Mungkin dia hanya menunda waktu. Jadi anda berdua sebaiknya bicara padanya. Katakan dia boleh menunda selama yang diinginkannya, tapi dia harus kembali. Bahwa anda menunggunya." (Hal. 71)

    Kecelakaan tragis itulah yang membuat Mia memikirkan banyak hal tentang hidupnya di masa sebelum kecelakaan dan bagaimana dia jadinya nanti bila dia memilih untuk melanjutkan hidupnya setelah sadar dari koma. Mia tahu dia sudah kehilangan orang tua dan adiknya. Karena itulah, dia sempat ragu untuk bangun dari komanya.

    Aku terharu menyaksikan bagaimana seluruh keluarga dan teman-teman Mia bersatu untuk membuat Mia kuat dan agar dia segera sadar dari koma yang dialaminya. Yang lebih mengharukan lagi adalah Mia dapat menyaksikan semuanya sebagai sosok yang tak nampak oleh siapapun.

    Novel ini masih bisa kamu beli di Shopee. Sekian saja review dari aku kali ini. Terima kasih sudah mampir dan membaca. Have a nice day!

    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.