Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Di Belakangmu

    Aku memandangi Vania yang sedang bicara. Dia mengucapkan setiap kata yang dipilihnya seolah-olah dia adalah ratu bagi para pendengarnya. Sesekali dia merapikan anak rambut yang menghalangi pandangan matanya. Angin kencang yang berhembus membuat rambut panjang cewek itu berkibar ke segala arah.

    "Habis itu aku pergi ke toko buku yang ada di deket sana," ucap Vania sambil tersenyum.

    source: redbubble.com

    Dia sedang membicarakan liburannya di kota Jogjakarta. Hanya dia cewek di kelas kami yang selalu bisa pergi ke luar daerah tiap kali musim liburan sekolah tiba. Bahkan mungkin dia juga menjadi satu-satunya di SMA Nusa Bangsa yang melakukan hal itu.

    "Toko buku independen, ya, Vania?" tanya Juni, yang di kelas jabatannya adalah sebagai ketua kelas. Tapi di banyak kesempatan, Vania-lah yang memberikan  arahan apa saja yang harus dia lakukan. Payah!

    "Iya, nama tokonya kalo nggak salah Little Heaven. Buku-bukunya bagus banget. Aku beli satu yang judulnya Midnight Story," jawab Vania penuh antusiasme.

    "Tentang apa?" tanya Juni lagi.

    "Tentang nasehat-nasehat kehidupan gitu. Memang bagus kalo dibaca sebelum tidur. Bisa jadi penyemangat."

    Aku sebenarnya sangat muak dengan percakapan macam ini. Aku benci melihat Vania yang di kelilingi teman-teman sekelas bak pemimpin bijak. Aku muak harus selalu menjadi babu dan perantaranya untuk orang-orang yang dianggapnya nggak selevel dengannya.

    Vania adalah putri tunggal pemilik sekolah ini. Dia punya segalanya. Dia selalu menjadi trend setter. Dia selalu rangking satu umum dan yang terutama, nggak ada satu orang pun yang berani menentangnya meski dia melakukan tindakan yang jahat.

    "Linda," Vania memanggilku. "Gimana kalo kita balik ke kelas? Aku udah capek berdiri disini."

    Karena aku adalah babu yang baik hati, babu yang sudah diberikan bea siswa oleh ayahnya, maka aku menganggukkan kepalaku dengan patuh sambil menarik bibirku membentuk senyuman paling tulus.

    Waktu Vania mengulurkan tangannya agar aku memegang tas selempang yang dari tadi dipakainya, aku pun dengan sigap mengambil benda itu. Aku selalu mengingatkan diriku untuk bertindak baik untuk Vania. Meskipun kalau mau jujur, aku ingin melempar cewek itu ke selokan di depan sekolah.

    Sampai di kelas, Vania, yang diikuti oleh segerombol teman-teman sekelas kami, tiba-tiba berhenti. Dia menjentikkan jari seolah baru mengingat sesuatu.

    "Lin, aku ketinggalan jepit rambut di depan perpustakaan tadi," kata Vania.

    Aku tahu aku harus kembali ke tempat yang tadi dan mengambil barang sang ratu yang tertinggal.

    Memang gampang menemukan jepit rambut yang dimaksud Vania. Benda itu tergeletak di lantai depan gedung perpustakaan tempat kami tadi mengobrol. Tapi bukan penemuan itu yang membuat aku gembira. Melainkan sebuah percakapan dari samping perpustakaan yang topiknya aku juga sering omongkan dengan diriku sendiri.

    "Lain kali aku nggak bakal mau nongkrong sama dia," ujar sebuah suara.

    "Mending kita di kantin aja, kan banyak tuh anak lain yang nongkrong di kantin ketimbang jadi rakyatnya Vania," ucap suara lainnya.

    "Iya, lagaknya kayak ratu aja. Kalo bukan karena dia anak pemilik sekolah, nggak bakal ada yang mau dengerin dia."

    "Linda juga, kok tahan deket sama dia. Tiap hari diperintah ini atau itu."

    "Aku sebenarnya juga nggak tahan dapat perlakuan kayak gitu," kataku langsung duduk di dekat kedua cewek itu.

    Mereka berdua teman sekelasku: Maya dan Risa. Aku nggak menyangka bahwa ada juga siswi sepertiku yang muak menjadi bawahan Vania.

    "Lin..." Risa sangat kaget mendapati aku duduk di sampingnya.

    "Nggak usah kaget begitu," ucapku. "Aku ngerti apa yang kalian rasain. Kita ada di sisi yang sama."

    Risa dan Mira terlihat lega. Mereka memberondongku dengan berbagai pertanyaan seputar kenapa aku bisa muak pada Vania. Aku jelaskan semuanya tentang kebebasan yang aku inginkan. Aku ingin seperti siswi lain yang bebas melakukan apa saja tanpa takut beasiswa-nya akan dicabut.

    "Memangnya Vania ngancem bakal nyabut beasiswa kamu?" tanya Mira prihatin.

    "Nggak secara langsung sih dia ngomongnya. Tapi tiap kali aku ngelakuin hal yang bertentangan dengan kemauannya, dia selalu ngingetin aku kalo aku ada di sekolah ini karena bantuan papa-nya," jelasku panjang lebar.

    Bel tanda masuk kelas berdering dan kami bertiga terpaksa menghentikan sesi curhat itu untuk kembali ke dalam kelas.

    *****

    Vania sangat percaya kepadaku. Dia bahkan nggak segan-segan menceritakan rahasia terdalamnya padaku. Vania sebenarnya sangat menyukai Rio, salah satu cowok dari kelas IPS. Akan tetapi karena Rio sama-sama masuk ke sekolah ini karena beasiswa, Vania hanya bisa memendam perasaannya.

    Dia bilang padaku bahwa dia nggak boleh menurunkan levelnya dengan berpacaran sama Rio. Padahal Rio keren dan pintar. Peduli amat dengan statusnya apakah penerima beasiswa atau bukan.

    Meski begitu Vania nggak pernah melewatkan satu informasi pun tentang Rio. Kalau nggak bisa mendapatkan informasi lewat sosmed cowok itu, maka Vania akan menyuruhku mencarinya. Bila satu hari saja Rio nggak update story di Instagram maka Vania bakal kelabakan.

    Contohnya saja hari ini. Sejak pagi Rio sama sekali nggak update story. Aku sendiri tahu apa yang dilakukan cowok itu tetapi Vania nggak percaya dengan penjelasan yang aku berikan.

    "Coba deh kamu tengok Rio ngapain, Lin, kok nggak ada yang baru di story-nya," ucap Vania panik.

    "Nggak usah panik gitu, dong, Van. Rio kan lagi ikut persiapan olimpiade akuntansi buat Minggu depan," kataku menenangkan.

    "Yah, cek sebentar aja apa bener dia belajar di perpustakaan?"

    "Oke, oke," ujarku langsung berjalan ke perpustakaan.

    Aku menemukan Rio di perpustakaan sedang berlatih menjawab pertanyaan bersama beberapa anak lainnya. Rio terlihat keren dengan Hoodie warna hitam yang dikenakannya.

    Dia nggak sadar bahwa aku sedang memperhatikannya. Dengan gerakan sepelan mungkin, aku mengambil handphone dan memotret cowok itu. Hasil jepretanku aku kirim ke Vania.

    Vania senang menerima gambar yang aku kirimkan. Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih. Aku pun senang dengan hasil kerjaku. Setidaknya aku bisa menambah koleksi foto Rio di handphone-ku. Sama seperti Vania, aku juga menyukai cowok itu.

    *****

    Hari Minggu selalu aku habiskan menemani Vania melakukan aktivitas favoritnya. Dia suka jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Dia juga suka nonton. Dan yang paling aku benci dari semua aktivitas akhir pekan Vania adalah makan.

    Aku adalah tipikal remaja yang gampang sekali naik berat badan. Mengkonsumsi karbohidrat berlebihan sangat cepat menaikkan berat badanku.

    Pergi bersama Vania menikmati semua camilan favoritnya membuatku sudah sangat kelebihan berat badan. Vania nggak pernah tahu bagaimana aku menahan sakit hati tiap kali diejek oleh beberapa cowok karena badanku yang melar. Dia sih santai saja apalagi dengan status ayahnya itu.

    Tapi hari Minggu kali ini aku memilih pergi ke taman dekat rumahku. Aku ingin nongkrong di tempat yang memang aku inginkan. Aku ingin menggerakkan badan. Aku ingin bebas sekali ini saja.

    Setelah jogging tiga kali keliling taman, aku memutuskan untuk beristirahat di salah satu bangku taman yang kosong. Hari ini suasana taman begitu ramai. Banyak orang (sebagian besar bahkan seumuran denganku) menghabiskan akhir pekannya untuk berkeringat. Aku jadi menyesal bila mengingat semua Minggu yang aku habiskan dengan sia-sia bersama Vania.

    "Linda..."

    Rio tiba-tiba saja sudah mendaratkan tubuhnya di sebelahku. Sama sepertiku, dia juga bercucuran keringat.

    "Kamu sering kesini, Rio?" tanyaku.

    Aku nggak pernah gugup bila berdekatan dengan Rio. Berbeda dengan Vania yang selalu salah tingkah ketika bersama cowok ini. Keberadaan Rio membuatku merasa nyaman. Seolah-olah, berada bersamanya sudah merupakan hal yang aku lakukan sejak jaman dahulu kala. Padahal aku baru mengenalnya ketika masuk SMA.

    "Sabtu Minggu aku pasti jogging disini," jawab Rio. "Kalo kamu kayaknya pendatang baru, ya?"

    Aku tersenyum. "Baru kali ini aku bisa bebas dari Vania."

    "Oh, biasanya kamu jalan bareng dia?"

    "Begitulah," ujarku masih dengan senyuman lebar. "Gimana olimpiade-nya?"

    "Cuma dapat peringkat ketiga. Kalah dari SMA 1 sama SMA Nusantara."

    "Nggak apa, yang penting udah dapat pengalaman baru."

    "Oh ya, nomer handphone kamu berapa?" tanya Rio yang tahu-tahunya sudah mengeluarkan ponsel siap mencatat nomerku.

    Aku memberitahu cowok ini tanpa ada kesalahan. Ini merupakan kejadian mengejutkan. Sebelumnya aku sama sekali nggak tahu nomer handphone Rio. Bahkan Vania pun nggak tahu. Kami hanya berteman di Instagram. Itupun aku ragu apa Rio sadar bila aku adalah followernya.

    "Kamu mau kemana habis ini?" tanya Rio kemudian.

    "Langsung pulang. Soalnya entar malem udah harus nyiapin diri buat pelajaran besok," jawabku.

    Pikiranku langsung melayang ke sebuah adegan dimana Rio mengajakku jalan ke suatu tempat yang romantis.

    "Mau langsung pulang sekarang?"

    "Nggaklah. Mau istirahat dulu. Aku masih capek."

    "Rumah kamu yang di perumahan dekat kantor pos itu kan?"

    Aku nggak pernah tahu bahwa ternyata Rio hapal letak rumahku.

    "Iya, bener disitu."

    "Nomer berapa? Lain kali boleh dong aku main kesana?"

    "Nomer 15A. Boleh dong. Nanti kalo nggak boleh aku dikira sombong lagi."

    Sampai disini aku membayangkan sebuah skenario yang menyeramkan. Bagaimana kalau Vania tahu kejadian hari ini? Bagaimana kalau dia tahu Rio meminta nomor handphone-ku? Apa dia akan marah besar lalu membentuk geng baru untuk memusuhi aku?

    Aku cukup ngeri membayangkan semua skenario itu. Mataku kemudian aku alihkan untuk memandangi Rio yang sedang mengoceh tentang teman sebangkunya yang suka sekali makan saat jam pelajaran berlangsung. Aku tertawa menanggapinya.

    Hari esok pasti akan tiba dan apapun bisa terjadi. Tapi aku juga nggak mau melewatkan hari yang benar-benar indah ini. Aku akan menikmati setiap detik bersama Rio ini.

    Aku bisa bertahan selama hampir dua tahun lebih meladeni semua keinginan Vania dan melupakan keinginanku sendiri. Aku yakin bila semua kejadian hari ini diketahui oleh cewek itu dan kemudian membentuk geng untuk menindasku, aku yakin aku pasti bisa bertahan.

    Aku hanya perlu mengingat hari ini dimana aku tertawa terbahak-bahak bersama Rio yang menceritakan lelucon tentang teman-teman sekelasnya. Maka aku pasti akan kuat.

    TAMAT

    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.