Ad

ad728
  • News

    Review Novel Di Tanah Lada

    Hellow you guys! Apa kabar hari ini? Semoga sehat ya. Sebagai seseorang yang begitu menyukai kegiatan membaca buku, aku mendapatkan kesenangan sendiri bila berkesempatan membaca novel yang tokoh utamanya seorang anak kecil. Anak-anak mempunyai cara berpikir yang masih polos. Ada kesenangan tersendiri bila bisa mengeksplorasi dunia mereka.

    Novel yang mau aku bahas kali ini menempatkan seorang anak umur 6 tahun sebagai tokoh utamanya. Novel ini berjudul Di Tanah Lada yang ditulis oleh Ziggy Z. Nama belakang penulisnya sebenarnya sangat panjang dan cukup rumit dibaca. Jadi untuk mengindari kebingungan, lebih baik aku singkat saja. So, mari kita simak dulu identitas novel ini.



    Judul: Di Tanah Lada
    Penulis: Ziggy Z
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Cetakan Ke: 1
    Tahun Terbit: 2015
    Tebal: 244 hlm
    ISBN: 978-602-03-1896-7
    Harga: Rp. 58.000


    Namanya Salva. Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna. Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Kakek Kia, ayahnya Papa, memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa Inggris. Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

    Ava adalah karakter paling polos yang pernah aku baca sepanjang pengalamanku membaca buku. Novel Di Tanah Lada menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu Ava sehingga membuat petualangan anak ini sangat seru. Ava keras kepala dengan semua hal yang menurutnya benar. Tapi memang begitulah anak-anak. Membaca novel ini membuatku merasakan sedih dan tawa sekaligus. Sedih saat mendapati adegan dimana Ava mendapatkan perlakuan jahat dari Papanya. Dan tawa merebak saat Ava mengemukakan pendapatnya tentang sesuatu. Begitu polos. Begitu sederhana.

    "Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut." (Hal. 197)

    Lain halnya dengan karakter P, yang sudah berumur 10 tahun dan lebih terbuka pandangannya tentang kehidupan. Dia tahu dia nggak diinginkan. Dan dia tahu sesuatu yang lebih dalam lagi tentang hubungan ibu dan ayahnya. Tapi aku suka P yang bertindak sebagai seorang kakak yang baik untuk Ava. Mereka bertualang bersama dan bahkan dengan berani merencanakan kehidupan yang bahagia untuk mereka kelak.

    Dari kedua karakter ini, ada banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Bagaimana seharusnya memperlakukan anak-anak di sekitar kita, bagaimana seharusnya bersikap terhadap satu sama lain dan sebagainya. Novel ini masih bisa kamu dapatkan di Shopee. Baiklah, sekian saja review dari aku kali ini. Have a nice day teman-teman. Happy reading!

    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.