Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Jodoh Dari Langit

    Mama terlihat sangat marah atas reaksiku barusan. Dia merapatkan bibirnya membentuk sebuah garis lurus. 

    "Pokoknya kamu harus datang! Kamu udah jauh tertinggal, Dina!" ucap Mama yang terdengar lebih seperti teriakan putus asa.

    "Tertinggal bagaimana, Ma? Aku nggak pernah mengganggap ini kompetisi," kataku dengan nada tenang dan aku langsung tahu kalau Mama kembali marah. 

    "Mama nggak peduli. Besok kamu datang ke kafe dan temui Andi disana!"

    source: pixiv.net

    Baiklah. Aku akan datang. Kalau aku ingat-ingat dari dulu, perjodohan kali ini adalah yang paling melelahkan secara psikologis. Sebelumnya Mama nggak pernah sekalut ini. Biasanya dia akan menelponku dengan tenang, menyebutkan siapa yang akan aku temui dan dimana aku akan bertemu dengan lelaki itu.

    Mama belum pernah menyampaikan berita perjodohanku secara langsung begini bahkan sambil marah-marah. Aku yakin ada sosok di belakangnya yang membuat Mama frustasi. Dan aku yakin itu pasti Tante Eva. 

    Aku nggak pernah menyukai Tante Eva. Semua hal yang berhubungan dengan wanita itu membuatku muak. Dengan kata-kata jahatnya dia selalu bisa mengendalikan hidupku. 

    Semua perjodohan yang pernah aku lakukan adalah ulahnya. Sepertinya dia nggak tahan melihatku masih sendiri di usiaku yang sudah 30 tahun ini. Dia pernah secara terang-terangan mengatakan bahwa wanita seharusnya sudah berumahtangga sedari umur 24 tahun. 

    Yang benar saja. Usia itu buatku adalah usia emas untuk mulai meniti karir. Usia untuk mulai merajut mimpi-mimpiku dan aku nggak mau menghalangi mimpiku dengan pernikahan.

    Tapi aku juga punya alasan tersendiri kenapa di usiaku ini aku belum menikah. Sampai detik ini, aku masih selalu memikirkan orang itu. 

    *****

    Aku datang ke kafe itu sesuai jadwal yang diberikan oleh Mama. Aku bahkan duduk di meja yang sejalan dengan petunjuk yang diberikan Mama: dekat dengan jendela besar. 

    Kalau mau jujur, aku bahkan nggak tahu Andi ini orang yang seperti apa. Aku belum pernah melihat wajahnya. Mama memang sempat memberikan Aku nama Instagram cowok itu. Tapi karena ada pekerjaan kantor yang nggak bisa aku tunda, aku lupa mengecek akun sosial media cowok itu. 

    Tapi Mama sempat mengatakan kalau si Andi itu berencana datang mengenakan kaos polo warna hitam. Mudah mudahan saja hari ini hanya dia yang berkaos polo hitam.

    Aku sedang memandangi kesibukan di jalanan di bawahku ketika sebuah suara menghentakku kembali ke dunia nyata.

    "Udah lama nunggu, Din?"

    Aku berbalik dan betapa kagetnya aku mendapati sosok yang sangat aku kenal dan aku hindari selama bertahun-tahun berdiri dihadapanku.

    "Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus.

    "Aku menghadiri perjodohan," jawab Andi dengan seringai khasnya. 

    "Jangan bilang kalo dari awal kamu tahu itu aku?"

    "Dari awal aku tahu itu kamu."

    "Terus kenapa kamu mau? Kamu udah tahu kan, ini nggak akan berhasil? Kamu cuma buang-buang waktuku aja!"

    Aku segera bangkit untuk pulang. Lebih baik aku melanjutkan pekerjaanku daripada harus menemani laki-laki busuk ini.

    "Tunggu. Kamu nggak bakal pergi kan? Aku baru aja datang."

    "Aku sibuk. Nggak ada waktu main-main. Apalagi sama kamu."

    Andi adalah teman masa SMA-ku. Dia tahu banyak hal tentang diriku terutama tentang kebodohanku yang luar biasa. Dan aku benci mengetahui fakta bahwa aku harus bertemu lagi dengan lelaki ini di saat aku sepertinya sudah berhasil melupakan masa-masa bodoh itu.

    "Apa kamu nggak tertarik sama kabarnya Vindra?" 

    Nama yang disebutkan itu berhasil membuatku terdiam. Jantungku secara otomatis berdetak lebih cepat padahal orang yang namanya disebut itu nggak ada di ruangan ini bersama kami.

    "Dia juga belum menikah," lanjut Andi. "Sama kayak kamu, Dina."

    Kalimat itu memberikan aku sebuah harapan. Tapi aku sendiri nggak yakin harapan untuk apa. 

    "Ayo duduk, Din," ucap Andi pelan.

    Aku membuang harga diriku jauh-jauh dan kembali duduk di kursiku. Ada seulas senyum licik yang mengembang di bibir Andi saat aku sudah duduk manis di tempatku semula.

    "Mau kamu apa, sih?" tanyaku akhirnya.

    "Aku cuma pengen ketemu sama kamu. Udah dua belas tahun kita nggak ketemu dan ngobrol lagi."

    "Ngobrol lagi? Perasaan dari dulu kita nggak pernah ngobrolin apapun. Yang ada itu kamu yang selalu ngobrolin aku bareng teman-teman basketmu itu."

    "Itu kan masa-masa waktu aku masih belagu."

    "Baguslah kalo kamu nyadar."

    "Oh ya, kamu kerja dimana?" tanya Andi. Pertanyaan yang menurutku nggak penting karena aku yakin dia sudah mendapatkan semua informasi tentang diriku dari Mama. 

    "Aku rasa aku nggak perlu jawab itu," ujarku santai.

    "Oke, oke. Kalo Vindra sekarang jadi fotografer." 

    "Bukannya dia kuliah jurusan Biologi?" Aku sangat menyesal sudah mengucapkan kalimat itu. Satu ucapan itu aku yakin sudah membuat Andi terbang melayang di angkasa. 

    Tapi sumpah, aku memang haus sekali informasi tentang Vindra. Dia adalah pria yang aku sukai saat SMA dan aku masih menyukainya hingga sekarang. Dialah alasan kenapa aku masih sendiri selama bertahun-tahun. 

    "Jurusan biologi itu pilihan orang tuanya. Passion dia yang sebenarnya ada di fotografi."

    Manis banget. Jadi sekarang Vindra hidup dengan menjalani passionnya. Aku iri sekali padanya. Aku bahkan nggak tahu passion-ku di bidang apa.

    "Kamu nggak mau tahu nama Instagram-nya apa?" tanya Andi sambil tersenyum.

    Orang-orang yang ada di sekeliling kami mungkin melihat senyuman itu sangat manis. Soalnya sejak tadi ada beberapa wanita yang selalu melirik ke arah Andi. Tapi buatku, senyuman itu sangat jahat.

    "Buat apa aku harus tahu. Aku mau pulang!" 

    Aku segera beranjak dari tempat itu. Aku malas meladeni Andi. Aku tahu dia satu-satunya harapan aku untuk bisa terhubung lagi dengan Vindra. Tapi harapan itu juga membawa kekhawatiran buatku. Bagaimana kalau di akun instagramnya Vindra memajang foto-fotonya bersama pacaranya? Dia memang belum menikah tapi bukan berarti dia nggak punya pacar kan? Aku menjadi sangat takut memikirkan hal ini.

    *****

    Malam itu aku sama sekali nggak bisa memejamkan mata. Kenangan masa SMA-ku bersama Vindra terus saja berputar di kepalaku. Aku memang nggak pernah berpacaran dengannya. Tapi beberapa teman dekatku tahu aku naksir cowok itu. 

    Masa saat aku naksir cowok itu adalah masa yang paling menyenangkan. Aku biasa mengirimkan pesan anonim kepada Vindra berupa puisi atau kutipan yang menurutku manis. Semua itu berjalan lancar sebelum Andi membocorkan identitas asliku pada Vindra dan pacarnya yang membuat aku kena labrak. 

    Aku nggak mau mengingat kejadian mengerikan itu. 

    Saat aku sudah mulai mengantuk, aku dikagetkan oleh suara handphone-ku, yang menandakan ada pesan yang masuk. Ternyata dari Andi.

    Andi: yakin masih nggak mau tahu Instagram-nya Vindra? Aku lagi baik. Jadi ini dia Instagram-nya: @ndra.vi

    Aku hanya membaca pesan itu tanpa memberikan balasan apapun. Karena hal yang langsung terpikirkan olehku adalah membuka aplikasi Instagram dan mengecek akun milik Vindra itu. 

    Aku sangat bersyukur karena Vindra sama sekali nggak memprivat akun sosial medianya. Aku bebas menjelajahi tiap pengalaman yang di-postingnya disana. Nggak ada foto wanita. Bahkan fotonya sendiri pun nggak terlihat. Yang aku temukan hanyalah deretan foto pemandangan yang luar biasa indahnya.

    Oke, mungkin Vindra memang masih benar-benar single. Tapi itu lantas nggak membuat aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku bahkan nggak berani mengikuti akunnya apalagi mengiriminya pesan. Menyedihkan banget.

    *****

    Pertemuanku dengan Andi yang membawaku lebih dekat dengan Vindra membuatku sama sekali nggak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Selama hampir seharian penuh yang ada di kepalaku hanya Vindra dan seluruh foto dalam akun instagramnya. 

    Aku bahkan nggak menyadari bahwa jam pulang kantor sudah lewat jika saja aku nggak diingatkan oleh Selina sahabatku.

    "Kamu mau sampai jam berapa disini, Din?" tanya Selina tertawa riang. 

    Aku tersenyum dan segera membereskan mejaku. Setelah ini aku sepertinya ingin menghabiskan waktuku di bioskop. Aku ingin mengalihkan pikiranku yang tak beraturan dengan sedikit hiburan. 

    "Gimana kalo kita nonton?" usulku pada Selina. Dia selalu suka diajak nonton film.

    "Kayaknya nggak bisa deh. Anakku tadi telpon. Katanya ada banyak tugas dari sekolah. Aku mau bantu dia bikin tugas..."

    Inilah yang sering terjadi padaku karena statusku yang masih belum menikah. Aku selalu kalah oleh urusan keluarga teman-temanku. "Oke, nggak masalah, Sel."

    Aku mengubah rencanaku. Aku membatalkan niatku menonton film dan memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai saja. 

    Karena saat sampai di pantai jam sudah menunjuk ke angka 7, jadi nggak banyak lagi orang yang menikmati deburan ombak yang bersemangat. Aku suka suasana seperti ini. 

    Aku duduk di salah satu sudut pantai dan mulai memandangi ombak yang saling berlomba menuju ke arahku namun nggak bisa menggapaiku karena posisiku yang cukup aman dari jangkauannya. 

    Entah sudah berapa lama aku duduk di atas pasir sambil memikirkan nasibku yang nggak pasti ketika aku menyadari ada sosok yang berjalan mendekat ke tempat aku duduk. Awalnya aku berpikir mungkin orang itu hanya akan sekedar lewat. Tapi saat aku melihat ada senyuman di wajahnya, aku tahu dia sedang menuju ke arahku. 

    Wajah yang tersenyum itu, meski sekarang sudah dibingkai oleh jenggot yang nggak terlalu lebat masih sangat aku kenali. Itu Vindra. 

    "Dinaaaa... Apa kabar?" tanya Vindra saat sudah sampai dihadapanku. 

    Aku segera berdiri. "Vindra... Kamu ngapain disini? Ohhhhh... Aku baik-baik aja kok. Kamu gimana?" 

    "Aku juga baik. Aku disini memang mau ketemu kamu..."

    Apa yang diucapkan Vindra membuatku hampir pingsan. Dia ada disini untuk ketemu aku? Bagaimana bisa? 

    Karena melihat wajahku yang kebingungan, Vindra kemudian menjelaskan bahwa sebenarnya tadi dia sempat pergi ke kantorku. Tapi karena aku sudah pulang jadi dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai saja untuk menghilangkan kekecewaannya.

    "Tapi gimana kamu bisa tahu tempat kerja aku?"

    "Ceritanya panjang. Tapi sungguh Din, aku seneng banget akhirnya bisa ketemu kamu disini," ucap Vindra. "Aku harap aku nggak terlambat."

    "Kamu ngomong apa sih, Vin?"

    "Sudahlah. Lupain aja." 

    Kami kemudian duduk di atas pasir yang entah kenapa malam ini terasa begitu nyaman. Aku merasa seperti sedang duduk di atas permadani.

    "Aku mau minta maaf," kata Vindra yang tentu saja membuatku bingung.

    "Maaf buat apa?"

    "Kejadian di kantin waktu itu... Pasti bikin kamu sakit hati banget... Aku bodoh sekali waktu itu karena nggak melakukan apapun buat membela kamu." 

    "Vin, itu kan udah lama banget. Aku saja udah lupa." 

    "Tapi aku nggak bisa lupa, Din. Aku masih ingat jelas gimana ekspresi kamu waktu itu dan aku masih merasa bersalah sampai sekarang. Begitu juga Andi..."

    "Andi?"

    "Iya, Andi. Dan ada satu hal lagi yang mau aku bilang." 

    Aku menaikkan sebelah alisku.

    "Sebenarnya yang mau dijodohkan sama kamu itu bukan Andi," ucap Vindra. "Tapi aku. Dan karena aku takut kamu masih marah ke aku, jadi aku meminta Andi untuk membantuku. Aku mau memastikan kamu nggak semarah itu ke aku. Karena aku nggak mau ditolak sama kamu, Din..."

    Kata-kata yang diucapkan Vindra itu seperti kereta cepat Jepang. Aku bisa mendengarnya tapi entah kenapa aku merasa sepertinya aku sedang berada dalam sebuah mimpi.

    "Din... Kamu marah ya, ke aku?"

    "Apa?" 

    Aku nggak mungkin marah. Mana mungkin aku marah sama orang yang sudah aku sukai sejak jaman dahulu kala?

    "Aku nggak marah," ujarku gugup. "Aku cuma kaget aja. Tapi kenapa kamu berpikir aku marah sama kamu?"

    "Dua tahun lalu, kita pernah dijodohkan... Aku waktu itu percaya diri banget. Tapi  kamu nggak datang. Yah, aku cuma bisa mikir kamu pasti masih marah ke aku."

    Aku mengingat lagi sejarah perjodohanku. Rasa-rasanya aku nggak pernah dijodohkan dengan lelaki bernama Vindra.

    "Aku nggak merasa pernah dijodohkan sama kamu, Vin," ucapku.

    "Oh ya? Aku sempat tanya ke Mama-mu saat itu. Beliau bilang kamu lebih memilih mengikuti acara ulang tahun teman sekantor-mu."

    Aku ingat. Hanya saja ketika itu Mama mengatakan aku akan bertemu dengan cowok bernama Hendra yang bekerja sebagai fotografer freelance. Bukan Vindra! Astaga. Kalau saja Mama bisa menyebutkan nama Vindra dengan benar, mungkin aku sudah bahagia sejak dua tahun yang lalu.

    Vindra yang mendengarkan penjelasan dariku itu tertawa cukup keras. 

    "Mungkin memang harus hari ini kita ketemu lagi," kata Vindra sambil mengusap matanya.

    "Mungkin saja!"

    Nggak ada kata-kata yang sanggup mewakili perasaanku malam ini. Aku sudah menunggu ini selama bertahun-tahun dan akhirnya aku bisa mendapatkannya sekarang. 

    "Jadi gimana kalo sekarang kita cari makan?" usul Vindra.

    "Oke," jawabku. "Tapi aku mau berterima kasih dulu sama Andi."

    "Aku juga!"

    TAMAT

    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.