Ad

ad728
  • News

    Cerpen: Obsesi

    Aku mencoba berkonsentrasi pada buku sejarah yang ada dihadapanku. Tanggal-tanggal yang tertera dalam buku itu yang menandakan masuknya orang-orang Belanda ke Indonesia membuat aku sedikit pusing. Tapi sambil menarik nafas panjang, aku bertekad untuk menghafalkannya.

    Satu detik, dua detik, tiga detik... Tanggal-tanggal itu masih bisa masuk ke kepalaku. Tapi pada detik kesepuluh, pikiranku sudah melayang ke kejadian di sekolah pagi tadi.


    Cerpen: Obsesi
    Gambar Ilustrasi: viral.id

    Aku masih ingat bagaimana Rendra tersenyum ke arahku saat aku memasuki areal parkiran sekolah. Langkah ringannya yang berjalan mendekati aku, juga nggak bisa aku lupakan. Benar-benar seperti kejadian di film-film saat sang tokoh utama pria mulai mendekati si tokoh utama wanita.

    "Besok kamu sibuk, Lan?" tanya Rendra masih dengan senyum manisnya

    Aku hampir saja melakukan kebodohan dengan hanya menyengir seperti sapi. Tapi untungnya, bagian otakku yang masih bisa berpikir logis mengambil alih.

    "Nggak sibuk sih, Ren," jawabku santai. Padahal kalau mau jujur, jantungku berdegup kencang sekali. "Memangnya ada apa?"

    "Gimana kalo besok pagi kita pergi ke Taman Kota?"

    "Boleh. Emangnya ada acara apa disana?"

    "Nggak ada acara apa-apa sih. Aku cuma mau olahraga aja. Kamu temenin aku, ya?"

    "Oke, baiklah."

    Permintaan Rendra itu menjadi pemicu wajahku yang selalu tersenyum sepanjang hari di sekolah. Anna, sahabat baikku, seperti biasa sudah tahu apa yang terjadi. Tapi dia tetap saja mencoba menghancurkan imajinasiku.

    "Aku kira Rendra lagi pacaran sama Silvia. Kenapa dia nggak ngajak cewek itu?" ucap Anna sambil membuka buku pelajaran Ekonominya.

    Khayalanku tentang apa saja yang akan aku lakukan dengan Rendra di Taman Kota langsung buyar. Kadang aku heran kenapa aku masih setia bersahabat dengan cewek ini.

    "Itu artinya dia udah putus sama Silvia!" ucapku dengan nada suara yang agak aku tinggikan.

    "Tapi kenapa cepet banget putusnya? Bukannya mereka baru sebulan jadian?"

    "Mana aku tahu. Yang jelas itu berita bagus buat aku."

    "Apa kamu yakin kamu naksir cowok labil begitu?"

    Rasanya aku ingin sekali menangis. Kenapa sahabat baikku yang hanya ada satu-satunya ini nggak mau mendukungku sama sekali? Sudah selama satu tahun penuh aku naksir Rendra. Selama setahun itu, aku hanya berani memandangi punggungnya tiap kali kami bertemu di tempat parkir atau kantin. Aku seperti orang bodoh saja. Bahkan yang lebih bodoh adalah aku selalu mengambil foto Rendra secara diam-diam dan menyimpannya di handphone-ku.

    Aku rasa aku sudah mengoleksi seribu lebih foto cowok itu dalam berbagai pose dan kesempatan.

    "Aku yakin seyakin-yakinnya!" ucapku pada Anna.

    "Oke. Tapi kalo aku jadi kamu dan tahu betapa cepat Rendra memutuskan sebuah hubungan, aku bakal mundur..."

    Kalimat itu membuat aku sangat frustasi. Tapi itu nggak akan menghentikan kekagumanku pada Rendra.

    **********


    Cuaca pada hari Minggu pagi itu sangat cerah. Sebelum berangkat ke Taman Kota, aku memiliki sebuah keyakinan kalau hari ini akan menjadi sangat istimewa. Bagaimana nggak, ini adalah kencan pertamaku bersama Rendra sejak aku mulai naksir cowok itu setahun yang lalu.

    Tapi sayangnya, Rendra membuat kacau keyakinanku itu. Dia baru muncul di Taman Kota pukul 8 pagi, terlambat satu jam dari janji kami sebelumnya pada jam 7 pagi. Ini membuat kalimat Anna kepadaku saat pelajaran ekonomi itu kembali terngiang. Oh ya ampun! Kenapa pengaruh Anna begitu kuat dalam diriku?

    Karena matahari sudah terlanjur tinggi dan aku (dan Rendra) takut akan panasnya, kami akhirnya cuma berakhir duduk-duduk di bangku taman dekat sangkar burung raksasa.

    "Sorry ya Lan, aku capek banget makanya bangun kesiangan," kata Rendra.

    Aku mengangguk, "nggak apa! Aku maklum. Aku juga tadi datang agak siang. Makanya aku ketakutan kalo kamu bakal nunggu lama."

    Padahal kejadiannya nggak kayak begitu. Karena saking senangnya akan bertemu dengan Rendra di luar suasana sekolah seperti biasanya, aku bangun sangat pagi. Lebih pagi dari jam bangunku setiap harinya. Dan aku sudah ada di taman kota setengah jam sebelum waktu janjian kami.

    "Oh ya Milan, gimana kalo kita sarapan dulu?" tanya Rendra.

    Aku sebenarnya sudah sarapan. Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya bisa mengikuti kemauan Rendra. Aku nggak mau hanya bengong melihat cowok itu menyantap sarapannya. Apa yang akan dia pikirkan nantinya?

    "Oke, aku juga belum sarapan," jawabku.

    Untuk saat ini, sepertinya aku harus melupakan dietku.

    Saat mendengar kata sarapan tadi, yang terpikir oleh otakku adalah makanan ringan semacam bubur ayam atau nasi kuning. Tapi begitu aku berjalan mengikuti langkah Rendra, aku tersadar dia akan berhenti di warung Chinese Food dekat pohon beringin. Dan perkiraanku itu nggak meleset. Apa warung ini menyediakan bubur?

    Setelah duduk di salah satu kursi, aku kaget setengah mati waktu Rendra menyebutkan pesanannya. Dia memesan capcay, angsio tahu, dan nasi goreng.

    Ya ampun! Aku bukan tipikal manusia yang bisa memakan sayuran sebagai sarapan. Aku ragu aku bisa menghindari semua ini.

    "Kamu nggak apa kan kalo makan ini pagi-pagi?" tanya Rendra.

    Aku menggeleng. "Aku suka kok semuanya!"

    Aku tersenyum padahal aku ingin sekali berteriak kalau aku bakal muntah bila menyantap makanan-makanan itu sebagai sarapan. Ada apa dengan Rendra? Kenapa dia nggak sesuai bayanganku?

    **********

    Suasana kelas XI IPS 2 sangat ramai. Hari ini guru bahasa Inggris kami nggak datang dan juga nggak ada tugas yang harus dikerjakan. Hal ini membuat semua teman-temanku bersorak kegirangan.

    Tapi keceriaan itu nggak berlaku buatku. Aku harus mendengar ceramah dari Anna setelah aku menceritakan apa yang terjadi di Taman Kota bersama Rendra.

    "Jadi lain kali kamu jangan pergi lagi sama cowok itu!" teriak Anna.

    Sebelumnya Anna berceramah soal aku yang kehilangan jati diriku saat bersama Rendra. Aku melakukan hal-hal yang nggak pernah aku lakukan dan membuat aku nggak nyaman. Anna mengatakan bahwa aku hanya terobsesi pada cowok itu. Dan obsesi seperti itu harus segera dihilangkan dari hidupku.

    Nggak lupa Anna juga menyinggung soal terlambatnya Rendra datang. "Kalo dia punya perasaan yang sama kayak kamu, dia bakal ngelawan rasa malasnya!"

    "Tapi aku udah setahun naksir dia. Dan ini kesempatan emas," ucapku.

    "Itu cuma ego-mu. Lupakan saja. Cari cowok yang nggak bakal mengubah kamu jadi orang lain."

    "Darimana kamu tahu hal-hal macam begitu? Kamu kan nggak pernah pacaran?"

    Anna memandangi aku dengan tatapannya yang mengerikan. "Tapi aku sering melihat teman-teman yang lain pacaran dan gimana mereka berakhir menyedihkan."

    "Jadi menurutmu aku juga bakal berakhir menyedihkan?"

    Anna mengangguk mantap. "Iyaaaa..."

    **********

    Seminggu setelah percakapan itu aku memutuskan untuk nggak lagi bercerita soal hubunganku dengan Rendra. Bukan berarti juga ada perkembangan bagus antara aku dan cowok itu.

    Dia tetap saja nggak menyatakan cintanya dengan cara romantis seperti yang sering aku bayangkan dulu. Kami masih sering ngobrol lewat aplikasi chat atau messenger. Tapi obrolanku dengan cowok itu hanya seputaran masalah sekolah yang mana ternyata Rendra mendapatkan nilai yang sangat jelek di pelajaran matematika.

    Semakin hari aku semakin sadar bahwa sepertinya nggak ada harapan apapun untukku. Rendra pasti hanya menganggap aku sebagai teman ngobrol saja. Nggak lebih. Dan ini terasa lebih menyakitkan ketimbang melihat dia jalan sama cewek lain.

    Tapi pada Sabtu pagi aku melihat secercah harapan. Saat itu aku baru saja memarkir motorku di dekat pohon Ketapang dan Rendra menghampiri aku dengan berlari-lari kecil.

    "Milan, nanti malam temani aku ke ulang tahun teman SMP-ku, ya?" Rendra tersenyum sangat manis. Senyum yang membuat hatiku berdebar selama hampir setahun lebih.

    Aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. "Oke. Dimana acaranya?"

    "Di The Cure Cafe... Tapi... Ada dress code-nya... Kamu musti pake dress warna pink..."

    Dress? Seumur hidup aku belum pernah memakai dress. Oke, mungkin waktu kecil aku sering memakai dress. Itu karena aku masih ada di bawah bayang-bayang ibuku. Tapi begitu aku sadar aku bisa memilih sendiri apa yang aku mau, aku nggak pernah memakai dress. Aku nggak suka. Semua orang tahu itu. Apalagi Anna.

    "Oke, aku bakal pakai dress pink. Aku kebetulan punya di rumah."

    Aku nggak tahu kenapa aku bisa berkata begitu. Setelah mengucapkannya, aku benar-benar menyesal. Tapi apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Siapa tahu saja, ada keajaiban di pesta ulang tahun itu untukku.

    Aku jelas nggak bisa memberitahu Anna soal ajakan ke pesta itu. Jadi sepulang sekolah, aku pergi sendirian ke butik dekat rumah untuk membeli dress warna pink.

    Pada sore ketika Rendra akan menjemputku, ibuku yang sedang membereskan meja makan hampir jatuh tersungkur karena melihat penampilan baruku.

    "Kamu baik-baik aja kan Milan, sayang?" Ibuku bahkan sampai harus bertanya seperti itu.

    "Iya, Ma... Milan baik-baik aja kok... Milan mau ke acara ultah temen..."

    "Pergi sama Anna?"

    "Nggak. Sama temen yang lain."

    "Oke, hati-hati ya. Mama mau mandi dulu."

    Aku bisa merasakan kalau Mama menahan tawa begitu dia berbalik menuju kamar mandi. Ada ada dengan ibuku?

    Pukul setengah enam sore Rendra akhirnya datang juga. Dia nggak telat seperti pertemuan pertama kami di Taman Kota. Tapi aku harus jujur. Pakaian konyol ini membuatku nggak bisa terkagum akan senyuman Rendra yang manis itu.

    Aku nggak nyaman.

    Awalnya aku berpikir kalau di tempat pesta aku mungkin akan mendapatkan kenyamanan. Apalagi aku akan bertemu dengan orang-orang baru yang sebagian besar adalah teman-teman masa SMP Rendra.

    Tapi nyatanya, aku bertambah nggak nyaman ketika sampai di Cafe itu. Semua cewek mengenakan pakaian yang sama. Begitu pula dengan para cowok. Mataku bahkan sampai sakit melihat warna pink yang berkeliaran dimana-mana.

    Aku nggak tahan. Apalagi Rendra begitu asik dengan teman-teman lamanya dan sepertinya aku nggak ada lagi di kepalanya. Aku hanya duduk sendiri di meja dekat kolam ikan.

    Aku ingin sekali pulang dan menonton drama Korea bareng Anna. Kira-kira apa ya, yang sedang Anna lakukan sekarang? Apa aku perlu menceritakan kejadian hari ini padanya?

    Anna benar bahwa aku nggak boleh mengejar cowok yang mencoba mengubahku menjadi orang lain. Dan dia benar, bahwa Rendra sepertinya hanya obsesiku saja.

    Saat sedang asik meratapi hidupku yang menyedihkan, seseorang menepuk pundakku. Aku mendongak dan mendapati Anna sudah berdiri dengan senyuman ramahnya.

    "Udah gak usah ngomong apa-apa. Ayo ikut aku," kata Anna.

    "Kita mau kemana? Eits, tapi gimana Rendra?"

    "Kita nggak bakal pergi jauh dan nggak usah mikirin Rendra. Dia lagi sibuk sama hidupnya sendiri."

    "Tapi setidaknya kamu bilang ke aku kita mau kemana?"

    "Ke lantai atas. Ada ruangan pribadi disana. Kita bisa nonton drama Korea sepuasnya."

    "Memangnya boleh ya? Pasti mahal harganya?"

    "Kamu lupa ya? Cafe ini kan punya pamanku!"

    Aku tersenyum. Aku terselamatkan. Aku bahagia.

    "Na..."

    "Iya, ada apa?" tanya Anna sembari berjalan di sampingku.

    "Makasih banyak ya!"

    "Nggak perlu. Aku sudah senang karena setidaknya kamu pasti sudah sadar sekarang."

    Aku kembali tersenyum. Ya. Aku sudah sadar sekarang.

    TAMAT

    Tidak ada komentar

    Top Ad

    ad728

    Bottom Ad

    ad728
    Diberdayakan oleh Blogger.